Rabu 21 May 2014 22:50 WIB

Obat 'Kesetanan', Tonton Pentas Teater Ini

Rep: Rr Laeny Sulistyawati / Red: Asep K Nur Zaman
Pentas
Foto: Teater Lingkar
Pentas "Pledoi Setan"

REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA -- Bahaya oplosan minuman keras, narkoba, HIV/AIDS, dan korupsi yang tengah membuncah di negeri ini dihadirkan dalam dua pementasan Teater Lingkar berjudul "Malam Botak" dan "Pledoi Setan", di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (21/5) malam. Yang punya gawe adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS), Jawa Timur.

Menurut sutradara pementasan "Pledoi Setan", Mochammad Afrizal, pementasannya menceritakan tentang kisah setan. Seperti yang dijelaskan dalam Alquran bahwa setan menentang perintah Tuhan saat diminta bersujud pada Nabi Adam.

Karena itulah, Tuhan mengutuk setan dan setan bersumpah menggoda anak cucu Adam hingga kiamat. Hingga saat itu muncullah larangan Adam dan Hawa memakan buah khuldi yang menjadi simbolik dari surga.

“Tetapi kami tidak menampilkan Khuldi dalam bentuk buah, melainkan dalam bentuk tarian. Ternyata Adam dan Hawa terhasut dan memakan buah Khuldi,” ujarnya.

Kemudian Adam dan Hawa diturunkan ke bumi karena membangkang perintah Tuhan. Tetapi ternyata, faktanya manusia lebih sesat daripada godaan setan, dan setan merasa resah karena menganggur.

Manusia juga lebih menuhankan setan dibandingkan Tuhannya melalui jimat. Setan pada akhirnya bertanya mengajukan pembelaan diri dalam bentuk pledoi setan dan bertanya pada manusia, "Saya setan, Anda siapa?”

“Naskah ini mencoba mengingatkan manusia akan tugas dan fungsinya. Jadi manusia jangan kesetanan dan kembali ke relnya yaitu ke jalan sebagai manusia yang berakal dan menghindari miras oplosan, HIV/AIDS, dan anti korupsi,” ujarnya. 

Ketua Umum UKM Teater Lingkar Enny Suryani mengatakan, menandai usia Teater Lingkar yang ke-17, pihaknya kembali mengadakan program tahunan pentas keliling. Setelah di tahun pertama pentas di Solo, Jawa Tengah, dan Yogyakarta, maka kota berikutnya yaitu Bandung, Jawa Barat. Kemudian di tahun ketiga, Teater Lingkar mendapat kesempatan tampil di Kota Batu. 

Lewat pentas ini, dia melanjutkan, pihaknya berusaha menyajikan pertunjukan yangedukatif.  Sarat akan pesan moral untuk para penonton. 

“Proses panjang pentas keliling juga merupakan bentuk kekhawatiran kami, mengingat saat ini beberapa media televisi kian gencar menghasilkan produk hiburan yang cenderung instan nyaris tanpa pesan,” katanya Enny.

Pimpinan Produksi Teater Lingkar, MS Hadiarsa, mengatakan, persiapan pementasan dilakukan selama lima bulan terakhir. Persiapan dilakukan termasuk pemilihan naskah.

Dari sekian naskah yang ada, dipilihlah dua naskah yaitu "Malam Botak" dan "Pledoi Setan". Dia menambahkan, dua pementasan yang digelar malam ini karena pihaknya ingin memberikan spirit agar generasi muda tidak menggunakan narkoba,oplosan, HIV/AIDS, dan melakukan tindakan korupsi. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement