REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sepuluh tahun lalu, Curtis Kulig hanyalah pemuda biasa yang gemar mencorat-coret sudut kota. Didorong oleh rasa kesepian yang kerap dia rasakan, hanya dua kata saja yang pemuda itu tuliskan di berbagai tempat, yakni kata "Love Me".
Hobinya jalan-jalan ke berbagai tempat di dunia telah membuat seni jalanan "Love Me" Kulig menyebar, dari mulai Los Angles higga Berlin, dari Paris hingga Tokyo. Di tempat-tempat tersebut, Kulig meninggalkan kata "Love Me", seperti di dinding gedung, tiang listrik, jembatan serta berbagai tempat lainnya.
Cerita berbeda terjadi belakangan, ketika dia serius menggeluti bisnis di bidang desain dengan membuka studio sendiri. Terinspirasi dari pengalaman berkesenian di jalanan, Kulig menggarap proyek "Love Me" secara komersial. Tak butuh waktu lama, banyak pemilik produk yang jatuh cinta pada kesederhanaan, universalitas, dan kekhasan jargon "Love Me" buatan Kulig.
Sejak saat itu, Kulig terlibat kolaborasi dengan banyak perusahaan, membuat berbagai desain "Love Me" bagi mereka. Beberapa merek ternama yang menggandeng Kulig adalah produk fashion DKNY, produk sepatu Vans, produk kosmetika Smash Box, dan masih banyak lagi.
Digandeng oleh rekanan terbarunya, perusahaan fashion LeSportsac, Kulig si seniman "Love Me" diboyong ke Indonesia untuk meluncurkan proyek kerja sama mereka, Selasa (20/5). Bertempat di Mal Grand Indonesia, Kulig membuatkan sejumlah instalasi seni berdesain "Love Me".
"Sepuluh tahun lalau saya memulai aksi "Love Me" ini di jalanan. Perasan emosional yang menggerakan saya ketika itu. Banyak yang menyukainya, karena pesan itu benar-benar universal," ujar Kulig kepada Republika, ditemui di sela kegiatan.