Senin 17 Mar 2014 22:11 WIB

'Arte Festival' Sukses Jadi Etalase Seniman Muda Indonesia

Rep: C54 / Red: Hazliansyah
 Pengunjung melihat pameran seni dalam Arte Indonesia Arts Festival 2014 di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Ahad (16/3) malam. Pameran seni ini meliputi pameran seni instalasi, video, lukis, fotografi hingga street art.
Foto: Republika/Yasin Habibi
Pengunjung melihat pameran seni dalam Arte Indonesia Arts Festival 2014 di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Ahad (16/3) malam. Pameran seni ini meliputi pameran seni instalasi, video, lukis, fotografi hingga street art.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jogja Hip Hop Foundation sukses memeriahkan hari ketiga gelaran "Arte Indonesia Arts Festival 2014". Tampil sekitar pukul 21.00 WIB, kelompok musik Hip Hop asal Yogyakarta itu sukses membius ratusan penggemarnya yang hadir, Ahad (16/3) kemarin.  

Sejumlah lagu seperti "Jula Juli Lolipop" serta "Jogja Istimewa" dibawakan kelompok yang beranggotakan 'Kill the Dj', 'Balance', 'Mamok' dan 'Rotra' ini. Belum lagi visual yang disajikan menambah kemeriahan dan kemegahan acara. 

Jogja Hip Hop Foundation hanyalah satu dari sederetan karya seni yang dihadirkan di segmen Performance Art. Selain Jogja Hip Hop Foundation, segmen itu juga diisi sederetan nama seperti Naif, Yacko Feat Iwa K, Goodnight Electric, Rock n Roll Mafia dan lainnya. 

Ada juga deretan platform seni lainnya, yakni culinary art, visual art serta art market. 

Digelar di Assembly Hall Jakarta Convention Centre, Jakarta, pada 14-16 Maret kemarin, "Arte Indonesia Arts Festival" sukses menjadi ajang bagi para seniman muda Indonesia menampilkan karya. 

Begitu masuk gedung tempat kegiatan, pengunjung langsung disambut ruang visual arts. Di sana, pengunjung disambut catatan kuratorial Ade Darmawan dan Riksa Afrianty yang terpasang di papan peraga. 

Di ruang pameran yang terbilang elegan tersebut, sebagian besar karya terpasang di panel peraga, termasuk beberapa video arts yang bisa disaksikan dan didengarkan pengunjung lewat layar LCD. Di beberapa titik, sejumlah karya instalasi diatur pada meja peraga. Di sudut lainnya, juga terpampang video arts yang disajikan dalam konsep home theatre, lengkap dengan kursi penonton, proyektor, dan layar besar. 

“Pendekar Kesepian”, video arts kanal tunggal yang disajikan dengan konsep home theater juga ramai dikunjungi. Dalam film cerita berdurasi 24 menit tersebut, kamera dari atas menyorot secara statis empat orang pendaki gunung (tiga lelaki, satu perempuan) tengah terbaring terentang di dalam tenda. Dengan posisi kepala merapat, memebentuk formasi empat arah mata angin, mereka terlibat percakan bermacam tema, mulai soal film hingga tentang alien dan jagat raya.

Sementara Film karya Yusron Fuadi, pengajar Universitas Gajah Mada (UGM), tersebut, mengingatkan pada trilogi drama Before Sunrise, di mana percakapan alami antarpara pemeran berlangsung dalam scene yang panjang. Dari sisi cerita, penyuka film fiksi ilmiah akan diajak sedikit mengingat The Man from Earth. 

Yang tidak kalah meriah adalah ajang ini menjadi kesempatan bagi film The Raid: 2 Berandal melakukan Indonesian Premiere. 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu menyambut positif acara ini. Ia mengatakan acara ini mampu menjadi ajang bagi anak muda menunjukkan kreativitas. 

"Kita harap ini jadi acara tahunan. Mudah-mudahan bisa go international juga. Saya sangat optimis ini adalah masa depan Indonesia. Salam kreatif," ucap Mari Elka saat membuka acara. 

 

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement