Senin 02 Dec 2013 05:12 WIB

Boy Rafli Dapat Gelar Dt. Rangkayo Basa

Boy Rafli Amar
Boy Rafli Amar

REPUBLIKA.CO.ID, AGAM -- Petinggi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) Brigadir Jenderal (Brigjen) Polisi, Boy Rafli Amar dinobatkan menyandang gelar Adat Minangkabau Dt. Rangkayo Basa dari Suku Koto, Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar).

Penganugerahan atau acara Batagak Penghulu Suku Koto, Koto Gadang kepada Kepala Biro Penerangan Masyarakat-Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian Republik Indonesia itu, berlangsung di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Minggu.

Hadir dalam kesempatan itu, Wakil Gubernur Sumbar, Muslim Kasim, Tokoh Minang, Emil Salim, Forkopinda Sumbar, Kapolda Sumbar, Brigjen Pol. Nur Ali, Bupati Wali Kota se Sumbar dan Anggota DPR RI Refrizal.

Wagub Sumbar, Muslim Kasim menyampaikan, pengangkatan gelar Datuk Rangkayo Basa yang telah terlipat selama 100 tahun, merupakan sebuah momentum membangkik batang tarandam oleh Boy Rafli Amar.

Semangat ini memperlihatkan nilai-nilai keminangan bagi anak kemenakan sebagai tanggung jawab moral terhadap budaya dan adat dalam perkembangan zaman saat ini.

"Kami juga melihat sejarah bagaimana masyarakat Minang melihat perpolisian dalam kehidupan masyarakat dan alam Minangkabau. Sejarah pernah mencacat keberadaan polisi wanita ditoreh lahir dari pemikiran bagai menjaga adat dan budaya dalam pemeriksaan terhadap pelaku wanita," katanya.

Hal inilah melahirkan keberadaan Polwan dalam dinamika pembangunan tanggung jawab Polisi dalam mengayomi dan menjaga keamanan masyarakat yang belajar ke alam dan mempertahankan serta menghargai nilai-nilai budaya.

Muslim juga menyampaikan, sejatinya orang Minang itu tidak silau dengan harta kekayaan berlimpah, "jikok kayo orang tidak akan meminta", kekuasaan yang tinggi, jika hebat berkuasa orang tidak akan melawan.

Sesungguh rasa nilai-nilai keminangan itu kuat karena budi pekerti dan nilai-nilai sosial yang dipahami.

Seorang penghulu memiliki rasa menjaga alam keminangan itu secara baik, memberikan perhatian terhadap anak kemenakan serta membangun kampung halaman untuk kebaikan bersama.

"Penghulu ibarat beringin di tangah Koto, Daunnya tampek balinduang, dahannyo tampek bagantuang, ureknyo tampek ba selo. Ka pai tampek ba tanyo, kapulang tampek ba barito," tambahnya.

Sesepuh Minang, Emil Salim dalam kesempatan itu juga menyampaikan, fungsi Datuk atau Penghulu di Koto Gadang bagaimana membangun tanggungjawab terhadap perkembangan kemajuan kampung, untuk kebaikan hidup anak kemenakan.

Saat ini, disadari begitu banyak anak kemenakan yang meninggalkan kampung halaman untuk mencari kehidupan yang lebih baik di negeri orang, karena di kampung sendiri tidak berkembang secara baik.

"Mimpi anak kemanakan menjadi sesuatu yang membanggakan, tentunya sebuah semangat kemajuan setiap generasi di Koto Gadang," katanya.

Kepada Ninik Mamak dan penghulu di Koto Gadang, tambah dia, perlu pemikiran ke depan, bagaimana Nagari Koto Gadang ini tetap menjaga kondisi yang telah ada saat ini. Menjaga alam dan persawahan lestari, di mana setiap data informasi kondisi Koto Gadang sudah ada pada Yayasan Koto Gadang.

Selain itu, perlu membuat tata ruang Koto Gadang yang lebih untuk mempertahankan lingkungan yang indah ini, dan membuka peluang potensi ekonomi masyarakat yang dikenal sejak dahulu sebagai pengrajin perak, tenun dan lain-lain.

"Kami berharap bagaimana sekolah Institut Seni Indonesia Padang Padang memiliki jurusan khusus kesenirupaan ada di Koto Gadang. Jurusan khusus kesenirupaan ini seperti seni lukis, ukir, tenun dan lain-lain, sehingga khas budaya dan nilai-nilai Koto Gadang dapat dilestarikan oleh anak kemenakan generasi penerus selanjutnya," harapnya.

Acara Batagak Penghulu Brigjen (Pol) Boy Rafly Amar, berjalan dengan baik dan lancar, tamu dan undang berdatangan, terlihat Nagari Koto Gadang laksana baralek gadang, semoga keindahan dan kebanggaan ini menjadi sesuatu yang baik bagi kemajuan Koto Gadang khususnya dan Sumbar pada umumnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement