Jumat 25 Oct 2013 16:32 WIB

Komik Asterix Terbaru Dukung Kemerdekaan Skotlandia

Komik terbaru Asterix di Skotlandia
Foto: bbc.co.uk
Komik terbaru Asterix di Skotlandia

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS — Wiski malt, alat musik bagpipe dan monster Loch Ness menjadi 'bintang tamu' dalam komik Asterix terbaru, yang menceritakan petualangan prajurit Galia tersebut dan sahabatnya Obelix ke Skotlandia dalam perjalanan ke Romawi.

Kelompok nasionalis Skotlandia yang sedang berkampanye untuk referendum kemerdekaan tahun depan, melihat buku tersebut mengandung alegori perjuangan mereka untuk bebas dari Britania Raya. Namun penulisnya menyangkal hal itu.

"Asterix chez les Pictes" ("Asterix dan Orang-Orang Pict") merupakan serial ke-35 dari komik legendaris yang diciptakan oleh ilustrator Albert Uderzo dan penulis Rene Goscinny pada 1959, dan telah terjual 352 kopi di seluruh dunia.

Tim penggarap buku terbaru ini, yang judulnya mengacu pada orang-orang Celtic yang mendiami Skotlandia kuno, adalah penulis Jean-Yves Ferri dan ilustrator Didier Conrad.

Dalam komik yang diluncurkan Kamis (24/10) seperti dikutip Reuters, Asterix dan Obelix membantu seorang Skotlandia gempal berambut merah yang terbawa ombak sampai ke desa mereka di Galia, membeku dalam es.

Begitu es dicairkan, pria bernama Mac Oloch itu menjelaskan bahwa penjahat yang bekerja sama dengan Romawi, Mac Abbeh – yang sungguh mirip aktor Perancis Vincent Cassel – telah mengkhianatinya. Hal ini membawa Asterix dan Obelix berkelana ke Skotlandia.

Puluhan penggemar Asterix, beberapa memakai kumis lebat ala prajurit Galia tersebut, mengantri di sebuah toko buku di Paris, pada Rabu (23/10), untuk menjadi pembeli pertama buku tersebut setelah tengah malam.

Di Skotlandia, buku ini telah dilihat oleh beberapa pihak sebagai tanggapan atas kemerdekaan Skotlandia.

“Kami senang dengan dukungan dari karakter yang sangat prestisius ini, namun kami harus cek apakah ia bisa memilih,” ujar kampanye “Yes Scotland” dalam pernyataan seperti dilansir voanews.com. Namun Ferri menyangkal ada niat tersembunyi di balik penulisan buku tersebut.

“Saya pergi ke Skotlandia untuk menunjukkan ide tersebut pada para warga di sana. Mereka senang kita berpikir tentang mereka dan bertanya ‘Mengapa Skotlandia?’. Secara khusus mereka merasa karena ada isu referendum, padahal tidak sama sekali,” ujarnya pada Reuters TV.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement