Selasa 05 Mar 2013 15:31 WIB

Rangkaian Acara 'Sejarah Adalah Sekarang 7'

Bulan Film Nasional, Sejarah adalah Sekarang
Bulan Film Nasional, Sejarah adalah Sekarang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menyambut Hari Film Nasional pada 30 Maret mendatang, Kineforum Dewan Kesenian Jakarta kembali menggelar program tahunan bertajuk "Sejarah adalah Sekarang 7".

Berikut rangkaian acara yang akan digelar di Kineforum mulai 1-31 Maret 2013.

A. Pemutaran Film dan Diskusi

Kineforum 1 – 31 Maret 2013 (kapasitas 45 kursi)

Teater 1 TIM XXI 18-31 Maret 2013 (kapasitas 130 kursi)

Setiap pukul 14.15 | 17.00 |19.30 | GRATIS (kecuali Jumat, Sabtu, Minggu di XXI, hanya 12.30 dan 14.30)

1. Tokoh: Misbach Jusa Biran | Kurator: Forum Lenteng

Seperti dua edisi sebelumnya, kineforum bekerja sama dengan Forum Lenteng melakukan kegiatan membaca karya-karya sutradara Indonesia. Setelah Usmar Ismail pada SAS 5 dan Syuman Djaya pada SAS 6, maka edisi kali ini, pembacaan dilakukan terhadap karya-karya dari Misbach Jusa Biran. Dalam kegiatan ini juga direncanakan akan mengundang mahasiswa/mahasiswi melakukan pembacaan sekaligus mengenal lebih dekat sosok Misbach Jusa Biran.

a. Bintang Ketjil (Wim Umboh, Misbach Yusa Biran, 1963)

b. Matjan Kemajoran (Wim Umboh, 1965)

c. Dibalik Tjahaja Gemerlapan (Misbach Yusa Biran, 1966)

d. Operasi X (Misbach Yusa Biran, 1968)

e. Pemutaran Perdana: Anak Sabiran: Di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip) (Forum Lenteng, 2013)

2. Meliput yang Luput | Kurator: Adrian Jonathan Pasaribu

Program ini ingin mengajak penonton untuk melihat kembali peristiwa 1965 yang belakangan ramai dibicarakan. Ada beberapa film pendek setelah rezim orde baru tumbang yang mencoba mengambil perspektif yang berbeda dari film yang sudah dibuat sebelumnya.

a. Topeng Kekasih (Hanung Bramantyo, 2000)

b. Mass Grave (Lexy Junior Rambadeta, 2001)

c. Klayaban (Farishad Latjuba, 2004)

d. Djejak Darah: Surat Teruntuk Adinda (M. Aprisiyanto, 2004)

e. Setelah 40 Tahun: Kebebasan Berbicara (Tintin Wulia, 2005)

f. Rantemas (BW Purbanegara, 2006) g. Sinengker: Sesuatu yang Dirahasiakan (M. Aprisiyanto, 2007)

h. Tjidurian 19 (Abduh Azis, Lasja F. Susatyo, 2009)

3. Njoo Han Siang dan Cerita Produksi Film Hari Ini| Kurator: Alexander Matius

Mungkin nama Interstudio terasa pernah terdengar. Sebuah laboratorium film berwarna pertama di Indonesia yang didirikan ketika film-film Indonesia harus hijrah ke luar negeri untuk sementara waktu sebagai salah satu kewajiban. Njoo Han Siang adalah orang yang bertanggung jawab atas ini. Tak hanya laboratorium, Njoo kemudian ikut terjun memproduksi beberapa film Indonesia. Berbagai film ditelurkannya dengan kisah drama dalam setting yang berbeda. Lantas bagaimana hasilnya? Apakah dia seorang yang idealis atau komersialis? Lantas bagaimana cerita produksi film hari ini? Sudahkah kita belajar darinya?

a. Chicha (Eduart Pesta Sirait, 1976)

b. Duo Kribo (Eduart Pesta Sirait, 1977)

c. November 1828 (Teguh Karya, 1978)

d. Rembulan dan Matahari (Slamet Rahardjo, 1979)

e. Usia 18 (Teguh Karya, 1980)

4. Dicari Grup Lawak | Kurator: Alexander Matius

Komedi di Indonesia tidak akan pernah usai untuk kita simak. Setelah pada edisi sebelumnya secara khusus kami membahas grup Warkop, kali ini kami melihat dari kacamata keseluruhan, yaitu mengenai grup lawak di film Indonesia. Kita bisa melihat bahwa film Indonesia sempat dihuni oleh kehadiran beberapa grup pembuat tawa. Saat ini, grup lawak seakan menghilang dari peredaran. Apakah karena grup lawak tak lagi diminati? Atau justru melawak sudah bisa mandiri? Ataukah karena mereka tak bisa “dianiaya” secara fisik dalam layar lebar?

a. Bing Slamet Koboi Cengeng (Nya Abbas Akup, 1974)

b. Karminem (Nya Abbas Akup, 1977)

c. Mana Tahan (Nawi Ismail, 1977)

d. Oke Boss (Elanda Rossi RS, 1981)

5. Reka Adegan lewat Nada dari Legenda| Kurator: Alexander Matius

Jika mendengar nama-nama seperti Ahmad Albar sampai Guruh Soekarno Putra, mungkin yang terlintas sejenak adalah mereka adalah legenda musik tanah air. Beberapa karya dari mereka sudah tidak perlu diragukan lagi. Lantas bagaimanakah mereka menata sebuah musik untuk mewakili adegan-adegan dalam film. Perlu kita simak apakah nada-nada dari mereka dapat sesuai memainkan perasaan kita ketika menonton film yang ditata musik oleh para legenda musik Indonesia.

a. Anak Perawan di Sarang Penjamun (Usmar Ismail, 1962)

b. Laila Majenun (Syuman Djaya, 1975)

c. Badai Pasti Berlalu (Teguh Karya, 1977)

d. Suci Sang Primadona (Arifin C. Noer, 1977)

e. Puspa Indah Taman Hati (Arizal, 1979)

6. Tentang Lagu dan Perjalanan | Kurator: Alexander Matius

Pembuatan dokumentasi mengenai sebuah perjalanan dan karya masa lalu semakin semarak belakangan ini. Arsip ini kemudian menjadi sangat penting mengingat kita bisa melihat rekam jejak dari sebuah perjalanan. Lewat usaha yang sangat keras, maka kepingan-kepingan sejarah yang sangat sulit untuk dikumpulkan dapat disatukan. Tak kenal maka tak sayang. Untuk itu mari kita mengenal mereka, nama-nama yang mondar mandir di telinga kita dengan lagu yang kita senandungkan dan aksi panggung yang kita perbincangkan setelahnya.

a. Generasi Menolak Tua (Bramantyo Hernomo, 2010)

b. Rock Bergema (Abott, 2012)

c. Berdansa Bersama Shaggydog (Tejo Baskoro, 2012)

d. Kemarin, Hari Ini, Selamanya, Rock Together (Kamerad Edmond, 2012) e. We Will Bleed (Eben, 2013)

7. Kinefilia: Sejarah sebagai Interteks | Kurator: M. Ariansah

Kinefilia adalah program bulanan kineforum yang digagas oleh M. Ariansah yang lebih banyak membahas sejarah sinema. Khusus setiap Bulan Film Nasional, program kinefilia mencoba melihat film dan sejarahnya sebagai interteks. Kali ini, Kinefilia akan melihat film Kejarlah Daku Kau Kutangkap dan film-film yang tergolong Screwball Comedy.

a. Bringing Up Baby (Howard Hawks, 1938)

b. The Philadelphia Story (George Cukor, 1940)

c. Kejarlah Daku Kau Kutangkap (Chaerul Umam, 1985)

B. Diskusi

1. Sinema HDSLR: Sebuah Berkah atau Kotak Pandora? | Programmer: M. Ariansah

Sejak 2008 muncul teknologi baru di mana kamera foto digital mulai dilengkapi oleh video resolusi tinggi. Hingga muncul eforia dikalangan pembuat film independen internasional yang melahirkan diktum yang menghimbau para pembuat film untuk membuat film dengan kamera DSLR sebagai kelanjutan dari revolusi budaya DIY dan sinema non-budget era 1990-an. Program ini akan menghadirkan Chand Parwez (produser) dan Mouly Surya (sutradara) sebagai narasumber.

2. Peluncuran dan Diskusi Buku Surat Cinta untuk Film Indonesia | PlotPoint dan @film_indonesia

Banyak cara merayakan film Indonesia. Menyambut 30 Maret 2013 sebagai Hari Film Nasional, penerbit PlotPoint Kreatif bekerjasama dengan @film_indonesia mengadakan lomba menulis Surat Cinta untuk Film Indonesia. Lima pemenang lomba ini mendapatkan hadiah dan surat-surat mereka termuat dalam buku Surat Cinta untuk Film Indonesia. Surat-surat cinta itu akan dibahas sebagai bagian dari diskusi soft launching buku tersebut, bertema, "Membaca Harapan Masyarakat terhadap Film Indonesia". Diskusi juga akan disertai pemutaran film nasional pilihan para kurator buku.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement