Sabtu 22 Sep 2012 15:02 WIB

'Mata Tertutup', Film Tanamkan Kecintaan kepada NKRI

Jajang C Noer.
Jajang C Noer.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepedulian generasi muda terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dinilai makin meluntur. Melunturnya kepedulian tersebut disebabkan banyak faktor, satu di antaranya karena pengkerdilan nasionalisme oleh gempuran budaya Barat.

Salah satu cara membangkitkan kecintaan generasi muda kepada NKRI melalui film. Untuk itu diluncurkanlah film 'Mata Tertutup' yang memiliki pesan untuk menanamkan cara pandang bagi generasi muda dalam memandang persoalan kebangsaan melalui kerangka NKRI.

"Semua anak-anak yang di sini yang mengaku percaya pada Tuhan berarti mengakui perbedaan dan menerimanya dengan kasih," kata aktris Jajang C Noer dalam Diskusi Film "Mata Tertutup" di SMAN 81 Jakarta Timur, Sabtu (22/9).

Hal tersebut disampaikan Jajang C Noer, pemeran Asimah--seorang ibu yang anaknya berhasil direkrut gerakan Negara Islam Indonesia (NII) dalam film 'Mata Tertutup'. Menurut Jajang, pengakuan terhadap perbedaan dalam kerangka NKRI merupakan poin penting yang ingin disampaikan melalui 'Mata Tertutup'.

"Saya pribadi berpartisipasi dalam film ini karena ingin tampil dan tema yang diangkat adalah NII," katanya.

Jajang mengaku perihatin jika generasi muda dipengaruhi paham selain NKRI yang boleh berdiri di Indonesia. Menurut Jajang, perekrutan yang memakai doktrin keagamaan, seperti yang dilakukan NII, selamanya tidak dapat diterima di Indonesia.

"Perekrutan yang dijalankan NII sangat berbahaya karena kita ini NKRI, bukan negara Islam," selorohnya.

Bagi Jajang, hidup dalam NKRI adalah harga mati dan itu ia tekankan pada diri anak-anak SMA yang hadir dalam diskusi tersebut. "Jika ada yang berkata pada kalian bahwa penolakan pembangunan gereja karena ada di kompleks muslim, pikirkan ini, 90 persen penduduk Indonesia memeluk Islam. Apakah orang Kristen tidak boleh hidup di tengah-tengah kita?" sebut Jajang.

Ditambahkannya, penerimaan terhadap kemutlakan NKRI juga memiliki konsekuensi mengakui perbedaan sebagai rahmat Tuhan, bukan penyebab perpecahan. "Setiap orang yang percaya Tuhan dan ingin mencapai surga, caranya sangat mudah. Dengan berhati baik dan berpikiran waras, bukan dengan kekerasan," tegasnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement