Kamis 24 Jun 2010 22:17 WIB

Baru Kali Ini, Museum di Indonesia Kelebihan Pengunjung

Museum Konferensi Asia Afrika
Museum Konferensi Asia Afrika

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG--Museum sepi pengunjung, itu bukan hal aneh. Namun tidak halnya dengan Museum Geologi dan Museum Konferensi Asia Afrika di Bandung. Di musim liburan sekolah ini, kedua museum itu justru ramai dikunjungi masyarakat.

Begitu ramainya pengunjung sehingga warga yang hendak berwisata ke museum itu harus sabar mengantri bila ingin melihat-lihat benda-benda koleksi di museum itu. Kedua museum itu kelebihan pengunjung. ''Karena museum terlalu penuh, kami mengatur masuknya pengunjung,'' kata Kepala Humas Museum Geologi Bandung, Awan Gunawan.

Bukan pada hari itu saja pengelola museum tersebut menggilir pengunjung. Menurut Awan, menjelang dan selama liburan, kunjungan ke museum geologi meningkat 300 hingga 400 persen. ''Biasanya jumlah pengunjung antara 700 hingga 1.000, sekarang yang datang dua ribu sampai empat ribu pengunjung,'' ungkapnya.

Pada musim liburan ini, kata Awan, museum geologi dibuka setengah jam lebih awal menjadi pukul 08.30 WIB dan ditutup pukul 15.00 WIB. ''Itu untuk hari Senin sampai Kamis. Sabtu dan Minggu kami buka dari pukul 09.00 hingga 13.00 WIB. Jumat dan hari libur nasional kami tutup,'' jelas Awan.

Pengunjung museum yang memamerkan berbagai koleksi bebatuan dan replika hewan purba, semacam dinosaurus, itu bukan hanya dari Bandung, tapi juga dari luar kota seperti Jabodetabek. Awan juga mengatakan, pengunjung museum yang didirikan pada 16 Mei 1928 itu kebanyakan dari kalangan pelajar. Mereka melakukan study tour bersama rombongan sekolah. ''Sebagian besar merupakan pelajar SMP,'' katanya.

Museum di Bandung yang juga dipadati pengunjung adalah Museum Konferensi Asia Afrika. Menurut Kudrat, pemandu di museum itu, lonjakan pengunjung di Museum KAA bisa mencapai 40 persen selama masa liburan kali ini. Rata-rata kunjungan ke museum itu adalah 14 ribu per tahun.

Akibat lonjakan pengunjung itu, pemandu di museum itu, yang jumlahnya enam orang, mengaku harus lebih bekerja keras. Mereka memandu sambil mengimbau agar pengunjung menjaga koleksi yang ada di sana. ''Kami sempat tidak istirahat siang. Makan siang pun harus buru-buru,'' katanya.

Museum Asia Afrika antara lain memamerkan foto pelaksanaan konferensi yang diadakan pada 18-24 April 1955. Di sana juga dipajang sejumlah benda yang digunakan para pemimpin Asia Afrika selama kegiatan itu berlangsung, seperti mesin tik, kursi rotan, dan sejumlah kamera.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement