Rabu 04 Nov 2026 09:49 WIB

Setop Insecure Pakai Baju yang Sama Berulang Kali

Kamu tidak harus membeli busana yang baru untuk setiap acara.

Memakai baju yang sama berulang kali (ilustrasi). Memilih untuk memakai pakaian favorit secara berulang justru menjadi langkah yang membebaskan sekaligus menyehatkan secara psikologis.
Foto: Dok. Magnific
Memakai baju yang sama berulang kali (ilustrasi). Memilih untuk memakai pakaian favorit secara berulang justru menjadi langkah yang membebaskan sekaligus menyehatkan secara psikologis.

JAKARTA -- Memakai pakaian yang sama secara berulang belakangan ini sering kali terasa perlu pembenaran, terutama di era ketika setiap sudut penampilan bisa dengan mudah difoto dan diunggah ke media sosial (medsos). Hal yang dulunya menjadi bagian alami dari keseharian secara perlahan berubah menjadi beban tersendiri, khususnya bagi generasi muda yang merasa harus selalu berganti gaya setiap kali beraktivitas di luar rumah.

Padahal, dorongan untuk tampil beda di setiap kesempatan yang dipicu oleh medsos bukanlah alasan untuk merasa malu ketika mengenakan busana yang sama. Psikolog dari Aster Whitefield Hospitals di Bangalore, India, Divya G, mengatakan rasa cemas tersebut berakar dari dorongan alami manusia untuk membandingkan diri dan mencari penerimaan sosial. Ketika medsos terus menyajikan foto orang-orang dengan pakaian baru dan kehidupan yang tampak sempurna, tanpa sadar masyarakat mulai menganggap kebiasaan berganti busana sebagai standar yang wajib diikuti.

Baca Juga

Pengunjung berbelanja di acara Garage Sale Jakarta di Pos Bloc, Jakarta, Ahad (3/8/2025). Acara tersebut menjual beragam produk fesyen preloved atau bekas layak pakai seperti baju, celana, jaket, sepatu hingga akseseori seperti gelang, cincin hingga jam tangan dengan harga terjangkau mulai dari Rp50 ribu hingga jutaan. Sebanyak 65 stan ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Pada akhir pekan, sejumlah pengunjung memadati area gelaran Garage Sale untuk berburu pakaian vintage hingga sneaker. Acara tersebut diharapkan tidak hanya menjadi sarana transkasi jual beli, namun menjadi ruang interaksi sekaligus wadah bagi para pelaku<a href= gaya hidup berkelanjutan guna mendukung pengurangan limbah tekstil dan konsumsi berlebih." />
Pengunjung berbelanja di acara Garage Sale Jakarta di Pos Bloc, Jakarta, Ahad (3/8/2025). Acara tersebut menjual beragam produk fesyen preloved atau bekas layak pakai seperti baju, celana, jaket, sepatu hingga akseseori seperti gelang, cincin hingga jam tangan dengan harga terjangkau mulai dari Rp50 ribu hingga jutaan. Sebanyak 65 stan ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Pada akhir pekan, sejumlah pengunjung memadati area gelaran Garage Sale untuk berburu pakaian vintage hingga sneaker. Acara tersebut diharapkan tidak hanya menjadi sarana transkasi jual beli, namun menjadi ruang interaksi sekaligus wadah bagi para pelaku gaya hidup berkelanjutan guna mendukung pengurangan limbah tekstil dan konsumsi berlebih. - (Republika/Thoudy Badai)

 

 

“Pada akhirnya, hal ini dapat memengaruhi citra tubuh kita. Kita mungkin mulai mengaitkan penampilan kita dengan nilai diri kita, berpikir bahwa pakaian baru membuat kita lebih menarik, menarik perhatian, dan/atau bahkan lebih mungkin diterima oleh orang lain,” kata Divya dikutip dari laman Hindustan Times pada Rabu (4/11/2026).

Rasa takut dinilai oleh orang lain saat mengulang pakaian sering kali jauh lebih besar daripada kenyataannya di lapangan, padahal belum tentu ada orang yang menyadarinya. Pakaian pada hakikatnya hanyalah sarana ekspresi diri, bukan pengukur harga diri, tingkat kepercayaan diri, ataupun pencapaian seseorang.

Berita Lainnya

Rekomendasi