JAKARTA -- Memakai pakaian yang sama secara berulang belakangan ini sering kali terasa perlu pembenaran, terutama di era ketika setiap sudut penampilan bisa dengan mudah difoto dan diunggah ke media sosial (medsos). Hal yang dulunya menjadi bagian alami dari keseharian secara perlahan berubah menjadi beban tersendiri, khususnya bagi generasi muda yang merasa harus selalu berganti gaya setiap kali beraktivitas di luar rumah.
Padahal, dorongan untuk tampil beda di setiap kesempatan yang dipicu oleh medsos bukanlah alasan untuk merasa malu ketika mengenakan busana yang sama. Psikolog dari Aster Whitefield Hospitals di Bangalore, India, Divya G, mengatakan rasa cemas tersebut berakar dari dorongan alami manusia untuk membandingkan diri dan mencari penerimaan sosial. Ketika medsos terus menyajikan foto orang-orang dengan pakaian baru dan kehidupan yang tampak sempurna, tanpa sadar masyarakat mulai menganggap kebiasaan berganti busana sebagai standar yang wajib diikuti.
gaya hidup berkelanjutan guna mendukung pengurangan limbah tekstil dan konsumsi berlebih." />
“Pada akhirnya, hal ini dapat memengaruhi citra tubuh kita. Kita mungkin mulai mengaitkan penampilan kita dengan nilai diri kita, berpikir bahwa pakaian baru membuat kita lebih menarik, menarik perhatian, dan/atau bahkan lebih mungkin diterima oleh orang lain,” kata Divya dikutip dari laman Hindustan Times pada Rabu (4/11/2026).
Rasa takut dinilai oleh orang lain saat mengulang pakaian sering kali jauh lebih besar daripada kenyataannya di lapangan, padahal belum tentu ada orang yang menyadarinya. Pakaian pada hakikatnya hanyalah sarana ekspresi diri, bukan pengukur harga diri, tingkat kepercayaan diri, ataupun pencapaian seseorang.