JAKARTA -- Stres berkepanjangan dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari kualitas tidur, kestabilan emosi, hingga kemampuan berkonsentrasi. Ketika kondisi tersebut terus berlangsung, sebagian orang mulai mencari pendekatan lain untuk membantu menjaga kesehatan mental.
Salah satu teknologi yang mulai diperkenalkan dalam layanan kesehatan otak adalah repetitive Transcranial Magnetic Stimulation (rTMS). Teknologi ini menggunakan pulsa elektromagnetik untuk menstimulasi aktivitas sel saraf di area tertentu pada otak tanpa melalui prosedur pembedahan.
Seraphim Medical Center di Gading Serpong, Tangerang, menghadirkan teknologi tersebut melalui perangkat ExoMind yang tersedia di Brain Wellness & Sleep Center. Dokter spesialis neurologi Seraphim Medical Center, dr. Oktaviana Niken P., Sp.N., DAIFIDN., MMRS., FNR., AIFO-K, menjelaskan stres berkepanjangan tidak hanya berkaitan dengan kondisi psikologis, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi otak dalam mengatur emosi, fokus, dan energi.
"Stres yang berlangsung lama tidak hanya dirasakan sebagai perasaan, tetapi juga memengaruhi cara otak mengatur emosi, fokus, dan energi. Karena itu, mendukung kesehatan mental bisa dilakukan juga dari sisi otaknya, tentu bersama dengan pola hidup yang baik," ujar Niken dalam keterangan tertulis, Senin (2/11/2026).
ExoMind merupakan perangkat yang menggunakan teknologi ExoTMS. Mekanismenya memanfaatkan pulsa medan magnet berulang untuk memengaruhi aktivitas neuron dan jaringan saraf di otak.
Dalam prosedur ini, sebuah kumparan atau coil ditempatkan di dekat kepala. Pulsa elektromagnetik yang dihasilkan kemudian menginduksi arus listrik kecil pada jaringan saraf di area yang menjadi sasaran stimulasi.
Salah satu area yang dituju adalah dorsolateral prefrontal cortex (DLPFC), bagian otak depan yang berperan dalam fungsi kognitif, pengambilan keputusan, serta regulasi emosi. Niken mengibaratkan DLPFC sebagai pusat kendali yang membantu seseorang mengatur emosi dan mengambil keputusan. Stimulasi pada area tersebut diharapkan dapat memodulasi aktivitas jaringan saraf.
Dia menjelaskan stimulasi yang dilakukan berulang berkaitan dengan konsep neuroplastisitas, yakni kemampuan otak untuk beradaptasi dan membentuk perubahan dalam koneksi antarsel saraf.