Jumat 23 Oct 2026 16:35 WIB

Adopsi AI Meningkat, Kesiapan Data Jadi Tantangan Perusahaan

Infrastruktur data dan keamanan siber jadi kunci utama hadapi transformasi AI.

Meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mendorong perusahaan di Indonesia memperkuat infrastruktur data dan keamanan siber.
Foto: Dok Republika
Meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mendorong perusahaan di Indonesia memperkuat infrastruktur data dan keamanan siber.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mendorong perusahaan di Indonesia memperkuat infrastruktur data dan keamanan siber. Kesiapan tersebut menjadi faktor penting agar pemanfaatan AI dapat meningkatkan produktivitas tanpa mengabaikan perlindungan informasi bisnis dan keberlangsungan operasional.

Berdasarkan survei Synology, hampir 88 persen responden di Indonesia mengkhawatirkan inefisiensi penyimpanan akibat peningkatan volume data AI dan duplikasi data. Di sisi lain, hanya sekitar dua dari 10 perusahaan di Indonesia yang sangat yakin dapat memulihkan operasional dengan cepat setelah serangan ransomware sekaligus memastikan data cadangan atau backup tetap terlindungi.

Baca Juga

Temuan tersebut dipaparkan dalam Synology Press Event 2026 di Four Seasons Jakarta, Selasa (13/10/2026). Dalam acara itu, Synology menyoroti tantangan transformasi AI di Indonesia, mulai dari pengelolaan pertumbuhan data dan perlindungan siber hingga pemanfaatan AI untuk produktivitas dan pengawasan operasional.

"AI semakin banyak digunakan dalam operasional bisnis, mulai dari pengelolaan data hingga kolaborasi tim," ujar Clara Hsu selaku Indonesia Country Manager di Synology.

Namun, penerapan AI perlu didukung infrastruktur yang mampu mengimbangi pertumbuhan data, sistem perlindungan yang andal, serta teknologi yang benar-benar membantu meningkatkan produktivitas perusahaan. Peningkatan penggunaan AI membuat kebutuhan penyimpanan data semakin kompleks bagi pelaku usaha. Perusahaan tidak cukup hanya menambah kapasitas, tetapi juga perlu memastikan performa, efisiensi, dan kemampuan infrastruktur untuk berkembang mengikuti kebutuhan bisnis.

Synology memperluas portofolio solusi penyimpanannya untuk berbagai skala usaha. Perluasan ini mencakup usaha kecil dan menengah (UKM) yang membutuhkan penyimpanan serta kolaborasi sehari-hari hingga perusahaan besar dengan beban kerja yang lebih kompleks.

Untuk kebutuhan perusahaan besar, PAS7700 menghadirkan teknologi penyimpanan NVMe yang dirancang untuk kebutuhan kritis. Sementara itu, solusi penyimpanan generasi terbaru dalam seri FS dan RS ditujukan untuk mendukung kebutuhan penyimpanan berperforma tinggi maupun operasional bisnis secara umum.

Selain performa, pengembangan tersebut mencakup peningkatan ketersediaan sistem, kemudahan pengelolaan, dan skalabilitas infrastruktur. Synology juga mengembangkan Synology Tiering dan fitur reduksi data pada sistem operasi DSM 7.4 untuk mengoptimalkan kapasitas penyimpanan.

"Seiring bertambahnya volume data, perusahaan tidak cukup hanya menambah kapasitas penyimpanan," ujar Joshua Nathanael selaku Sales Manager Synology. 

Ia menambahkan bahwa pengembangan solusi dari perusahaannya ditujukan untuk membantu korporasi mengoptimalkan infrastruktur seiring perkembangan kebutuhan bisnis. Ke depan, Synology juga mengembangkan teknologi scale-out storage yang memungkinkan perusahaan meningkatkan kapasitas dan performa penyimpanan secara lebih fleksibel.

Selain pengelolaan data, ancaman ransomware membuat kemampuan pemulihan sistem menjadi perhatian penting bagi perusahaan. Lingkungan teknologi informasi yang semakin kompleks mendorong perusahaan menggunakan berbagai solusi untuk melindungi perangkat, jaringan, layanan cloud, sistem backup, hingga pemantauan keamanan.

Namun, banyaknya solusi yang digunakan tidak selalu menjamin ketahanan bisnis secara menyeluruh. Terlebih lagi, sistem backup yang ada sering kali masih menghadapi risiko yang sama dengan infrastruktur utama.

Survei Synology menunjukkan hanya sekitar dua dari 10 perusahaan Indonesia yang sangat yakin dapat memulihkan operasional dengan cepat setelah serangan ransomware. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan perlu memiliki strategi pemulihan yang lebih menyeluruh.

Upaya pemulihan tersebut mencakup penyimpanan beberapa salinan backup di lokasi berbeda, perlindungan agar data tidak dapat diubah, serta pengujian pemulihan secara berkala. Strategi seperti 3-2-1-1-0, immutable backup, dan air-gap dapat membantu memastikan salinan data tetap terlindungi dan dapat dipulihkan ketika terjadi insiden.

Untuk kebutuhan tersebut, Synology mengembangkan ActiveProtect sebagai perangkat backup khusus yang memusatkan perlindungan data sekaligus memisahkan infrastruktur pemulihan dari sistem produksi utama. Melalui perangkat ini, perusahaan dapat mengelola backup secara terpusat dengan dukungan perlindungan immutable dan kemampuan isolasi dalam satu platform.

ActiveProtect Manager 2.0 juga memperluas kompatibilitas dengan lingkungan virtualisasi perusahaan, termasuk Nutanix AHV dan Proxmox VE. Perangkat ini turut mendukung pemulihan di lingkungan on-premise maupun cloud.

"Memiliki backup saja belum cukup bagi perusahaan saat ini. "Perusahaan harus memastikan data backup tetap aman dan benar-benar dapat dipulihkan saat terjadi serangan," ujarnya.

ActiveProtect menggabungkan immutable backup, isolasi, dan pengelolaan pemulihan terpusat dalam satu perangkat khusus. Langkah ini memastikan perusahaan memiliki sistem pemulihan yang lebih andal dan terpisah dari lingkungan produksi.

Di sisi produktivitas, AI membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan administratif dan kolaborasi tim. Teknologi ini dapat membantu penyusunan dokumen, pembuatan presentasi, penerjemahan materi, pencarian informasi, hingga pengolahan spreadsheet.

 

 

 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi