Jumat 23 Oct 2026 11:00 WIB

Konser YE Live in Jakarta Diproyeksikan Datangkan 20 Ribu Wisatawan Asing

Sekitar 5.000 pekerja lokal terlibat dalam produksi dan operasional konser.

Kegiatan konferensi pers menjelang penyelenggaraan YE Live in Jakarta.
Foto: Istimewa
Kegiatan konferensi pers menjelang penyelenggaraan YE Live in Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Penyelenggaraan konser musik internasional di Jakarta berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi sektor pariwisata, perhotelan, transportasi, hingga usaha kuliner. Konser YE Live in Jakarta yang dijadwalkan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pada Sabtu (24/10/2026) diproyeksikan mendatangkan lebih dari 30 ribu pengunjung dari luar Jakarta, termasuk lebih dari 20 ribu wisatawan mancanegara.

Proyeksi tersebut disampaikan penyelenggara konser, Raw Vision Collective, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (22/10/2026). Selain potensi belanja pengunjung, penyelenggaraan konser berskala internasional itu diperkirakan melibatkan sekitar 5.000 tenaga kerja Indonesia untuk mendukung kebutuhan produksi dan operasional.

Baca Juga

Kedatangan pengunjung dari berbagai daerah dan negara diperkirakan akan meningkatkan permintaan terhadap layanan transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, serta perdagangan ritel. Aktivitas ekonomi tersebut tidak hanya berlangsung di kawasan GBK, tetapi juga berpotensi menjangkau berbagai pusat usaha di Jakarta selama akhir pekan konser.

Marketing & Communications Lead Raw Vision Collective Karen Tjahja mengatakan, konser internasional memiliki potensi ekonomi yang melampaui penjualan tiket pertunjukan. Menurut dia, kehadiran penonton dari luar daerah dan luar negeri membuka peluang usaha bagi pelaku industri pariwisata, ekonomi kreatif, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

”Bagi kami, YE Live in Jakarta bukan hanya tentang satu malam pertunjukan, tetapi juga tentang menunjukkan kesiapan Jakarta untuk menjadi destinasi pilihan bagi artis-artis internasional dalam menggelar konser tunggal. Kami berharap penyelenggaraan konser ini dapat semakin memperkuat posisi Indonesia dalam peta hiburan global, sekaligus mendorong aktivitas ekonomi lokal melalui kehadiran pengunjung dari berbagai daerah dan negara yang turut membuka peluang bagi UMKM dan berbagai sektor bisnis di Indonesia. Kami sangat mengapresiasi dukungan pemerintah, sponsor, mitra, dan seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini,” ujar Karen.

Dari sisi ketenagakerjaan, sekitar 5.000 pekerja Indonesia diperkirakan terlibat dalam penyelenggaraan konser tersebut. Kebutuhan tenaga kerja mencakup pemasangan panggung, teknisi suara dan pencahayaan, kru layar LED dan video, logistik, serta pengemudi kendaraan pengangkut perlengkapan produksi.

Tenaga kerja juga dibutuhkan untuk layanan keamanan, kesehatan, penerimaan penonton, dan kebersihan. Jumlah tersebut merupakan estimasi keterlibatan pekerja dalam penyelenggaraan konser, bukan penambahan lapangan kerja permanen.

Selain pekerja yang terlibat langsung, aktivitas ekonomi diperkirakan menjangkau pelaku usaha di luar lokasi pertunjukan. Hotel, penginapan, restoran, kafe, pedagang kaki lima, pengemudi transportasi daring, perusahaan taksi, dan toko ritel berpotensi memperoleh tambahan permintaan dari pengunjung konser.

Karen mengatakan, dampak ekonomi konser tidak hanya ditentukan oleh aktivitas di dalam stadion. Kebutuhan penonton selama berada di Jakarta juga menciptakan peluang pendapatan bagi berbagai jenis usaha.

“Selama akhir pekan konser, banyak pekerja dan pelaku usaha lokal yang ikut berkontribusi, baik di dalam maupun di luar area GBK. Mulai dari kru yang membangun pertunjukan hingga pengemudi, pemilik usaha kuliner, dan pekerja layanan lainnya, mereka semua adalah bagian dari YE Live in Jakarta. Mereka semua adalah tuan rumahnya,” tambah Karen.

Penyelenggaraan YE Live in Jakarta mendapat dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Pariwisata, dan Kementerian Ekonomi Kreatif. Sejumlah perusahaan juga terlibat sebagai sponsor dan mitra, yakni Republik World, InJourney, InJourney Airports, InJourney Retail Sarinah, Telkomsel, Balifiber, Oasis, dan Bluebird Group.

Sebelum konser utama, Raw Vision Collective menggelar sejumlah kegiatan promosi, termasuk aktivasi di kawasan hari bebas kendaraan bermotor (car free day) dan pertunjukan “Tunnel Vision: An Ode to YE” di terowongan bawah tanah SCBD pada 18 Oktober 2026.

Pertunjukan tersebut dipimpin Tony Williams, vokalis dan produser peraih Grammy Award yang pernah berkolaborasi dengan YE sejak album The College Dropout. Kegiatan itu mempertemukan musisi internasional dan talenta Indonesia dengan memadukan paduan suara kontemporer serta unsur musik tradisional, termasuk gendang.

Saat ini, persiapan produksi konser telah berlangsung di kawasan GBK. Penyelenggara menyatakan fokus pada kesiapan teknis, operasional, dan keamanan menjelang pelaksanaan pertunjukan.

Meski berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi, penyelenggara belum menyampaikan estimasi nilai transaksi atau perputaran uang yang akan dihasilkan dari konser tersebut. Proyeksi jumlah pengunjung dan keterlibatan tenaga kerja masih merupakan perkiraan menjelang pelaksanaan acara.

Dengan demikian, besarnya dampak ekonomi konser terhadap sektor pariwisata dan usaha lokal masih bergantung pada realisasi kedatangan pengunjung serta pengeluaran mereka selama berada di Jakarta.

Berita Lainnya

Rekomendasi