REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan dan Sumatra membuat kedua wilayah itu diselimuti kabut asap tebal sehingga membuat suasana sekitar bernuansa oranye. Asap bahkan menyebar ke sejumlah negara tetangga, "mengaburkan" langit Singapura hingga memaksa penutupan sekolah di beberapa wilayah Malaysia.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Indonesia melampaui angka 1200 pada Rabu. Angka tersebut lebih dari empat kali lipat ambang batas kategori berbahaya yaitu 300. Lantas apa dampaknya bagi kesehatan?
Sebuah studi tahun 2025 yang dipublikasikan dalam jurnal Epidemiology menemukan bahwa dampak paparan asap kebakaran hutan terhadap jantung dan paru-paru dapat bertahan hingga tiga bulan setelah asap menghilang. Tingkat polusi asap yang lebih tinggi juga dikaitkan dengan peningkatan risiko masalah kesehatan.
Salah satu komponen berbahaya dalam asap kebakaran hutan adalah partikel halus yang dikenal sebagai PM2.5. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru. Sebagian partikel bahkan dapat memasuki aliran darah dan memicu peradangan di dalam tubuh.
Asap kebakaran juga dapat mengandung zat beracun yang dilepaskan dari pembakaran berbagai material, seperti plastik dan material industri. Paparan partikel halus dan zat beracun tersebut dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, terutama jika terjadi dalam waktu lama.