REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 1.300 penari dijadwalkan tampil dalam pertunjukan kolosal Gandrung Sewu 2026 di Banyuwangi, Jawa Timur, pada 24 Oktober mendatang. Untuk pertama kalinya, festival budaya tersebut akan digelar pada malam hari dengan memadukan tarian tradisional, tata cahaya, dan teknologi pertunjukan.
Perubahan konsep ini menjadi salah satu strategi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk meningkatkan daya tarik wisata budaya sekaligus memperpanjang lama kunjungan wisatawan. Penyelenggaraan Gandrung Sewu 2026 juga mendapat dukungan dari PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney melalui kolaborasi pengembangan ekosistem pariwisata daerah.
Direktur SDM dan Digital InJourney Herdy Harman mengatakan, pengembangan pariwisata membutuhkan keterhubungan antara transportasi, destinasi, atraksi, akomodasi, dan pelaku usaha lokal. Festival budaya dinilai dapat menjadi pintu masuk untuk meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar destinasi wisata.
"Salah satu wujud kolaborasi tersebut adalah dukungan terhadap penyelenggaraan Gandrung Sewu 2026 pada 24 Oktober 2026 yang untuk pertama kalinya akan digelar pada malam hari dengan menghadirkan konsep pertunjukan baru," ujar Herdy dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Menurut Herdy, festival budaya perlu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas daripada sekadar menarik penonton. Wisatawan yang datang diharapkan juga mengunjungi destinasi alam dan budaya, menginap di hotel, menikmati kuliner, serta membeli produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Banyuwangi memiliki fondasi alam dan budaya yang kuat. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menghubungkan seluruh potensi tersebut agar memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi daerah,” ucap Herdy.
Herdy menilai keterhubungan berbagai layanan pariwisata dapat membuat wisatawan memiliki lebih banyak pilihan aktivitas selama berada di Banyuwangi. Dengan demikian, penyelenggaraan Gandrung Sewu diharapkan meningkatkan lama tinggal wisatawan dan membuka peluang kunjungan ulang.
"Jika seluruh elemen ini dapat kita orkestrasi bersama, Gandrung Sewu dapat menjadi salah satu anchor yang membuat wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk datang ke Banyuwangi, tinggal lebih lama, dan kembali lagi," kata Herdy.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, penyelenggaraan Gandrung Sewu dengan konsep malam hari merupakan inovasi untuk menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Meski demikian, pertunjukan tersebut tetap mempertahankan identitas budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Banyuwangi.
"Kolaborasi bersama InJourney menjadi salah satu upaya memperkuat daya tarik Gandrung Sewu sekaligus mendorong pariwisata Banyuwangi agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Ipuk.
Dari sisi aksesibilitas, Direktur Komersial InJourney Airports Very Y Setiady menilai konektivitas udara harus berkembang seiring dengan daya tarik destinasi. Keberadaan bandara dan layanan penerbangan perlu didukung kegiatan wisata yang mampu menciptakan permintaan perjalanan secara berkelanjutan.
"Konektivitas bukan hanya tentang tersedianya bandara dan penerbangan, tetapi juga bagaimana akses tersebut didukung permintaan perjalanan yang berkelanjutan," ujar Very.
Sementara itu, budayawan sekaligus pelatih penari Gandrung Sewu, Suko Prayitno, mengatakan, perubahan waktu pertunjukan menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku seni. Konsep baru tersebut harus tetap menjaga pakem dan nilai budaya Tari Gandrung meskipun menggunakan teknologi pencahayaan dan tata panggung yang berbeda.
"Kami ingin masyarakat dapat menikmati pengalaman yang berbeda, tetapi tetap merasakan jiwa dan karakter Tari Gandrung yang sesungguhnya," ujar Suko.
Salah satu penari Gandrung Sewu 2026, Puspa Ayu, mengaku antusias menyambut konsep pertunjukan malam hari. Ia berharap penampilan para penari dapat menarik minat masyarakat untuk mengenal budaya Banyuwangi lebih dekat.
"Semoga penampilan kami bisa membuat penonton semakin bangga dan tertarik mengenal budaya Banyuwangi lebih dekat," kata Puspa.
Gandrung Sewu 2026 akan menampilkan perpaduan gerak ribuan penari, tata cahaya, dan teknologi pertunjukan dalam satu panggung kolosal. Selain menjadi atraksi wisata, festival tersebut juga memberikan ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam pelestarian seni tradisi Banyuwangi.