Selasa 13 Oct 2026 23:00 WIB

Dokter Ungkap Faktor Penting dalam Memilih Kaki dan Tangan Palsu

Keberhasilan rehabilitasi bergantung pada asesmen, latihan, dan evaluasi berkala.

Kegiatan kuliah tamu mengenai teknologi dan rehabilitasi kaki serta tangan palsu di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Senin (12/10/2026).
Foto: Istimewa
Kegiatan kuliah tamu mengenai teknologi dan rehabilitasi kaki serta tangan palsu di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Senin (12/10/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perkembangan teknologi prostetik memperluas pilihan tangan dan kaki palsu bagi pasien amputasi. Namun, pemilihan perangkat tidak cukup hanya mempertimbangkan kecanggihan teknologi, melainkan juga kondisi klinis, kemampuan fungsional, tujuan rehabilitasi, serta aktivitas sehari-hari pasien.

Hal tersebut mengemuka dalam kuliah tamu bertajuk Clinical Prospective in Upper and Lower Limb Prosthesis Rehabilitation di Ruang Kuliah Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Senin (12/10/2026).

Baca Juga

Kegiatan yang diselenggarakan Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (Sp.KFR) FKUI dengan dukungan Össur dan PT Asa Solusi Aktif (ASATIF) tersebut membahas perkembangan teknologi prostetik serta pertimbangan klinis dalam menentukan perangkat yang sesuai bagi pasien.

Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi Rizky Kusuma Wardhani mengatakan, rehabilitasi prostetik tidak berhenti pada penyediaan alat pengganti anggota tubuh. Tujuannya juga mencakup pemulihan kemandirian, dukungan terhadap aktivitas sehari-hari, serta peningkatan kualitas hidup pasien.

“Teknologi canggih saja tidak menjamin keberhasilan rehabilitasi. Hasil yang optimal memerlukan asesmen pasien yang tepat, pemilihan prostesis yang cermat, program rehabilitasi yang dipersonalisasi, serta kolaborasi yang efektif di antara para tenaga kesehatan,” ujarnya.

Menurut Rizky, dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi memiliki peran penting dalam menghubungkan perkembangan teknologi dengan kebutuhan fungsional pasien. Karena itu, pemahaman terhadap pilihan prostesis dan pertimbangan klinis perlu menjadi salah satu kompetensi dalam proses rehabilitasi.

Ahmad Risaldi dari ASATIF menilai, pengenalan teknologi prostetik kepada kalangan medis dapat memperluas pilihan penanganan. Kolaborasi dengan institusi pendidikan kesehatan dan produsen perangkat dinilai dapat membantu dokter memahami alternatif teknologi sebelum menentukan solusi rehabilitasi.

“Kami percaya pembelajaran tentang teknologi terbaru di bidang kaki dan tangan palsu akan bermanfaat tidak hanya bagi dokter Sp.KFR, tetapi juga bagi pasien-pasien mereka,” katanya.

Ahli Prostetik dan Ortotik Össur Asia Tenggara Zulfaqar Omar menekankan, dokter tidak harus menguasai seluruh spesifikasi teknis atau proses pembuatan perangkat. Hal yang lebih penting adalah memahami indikasi klinis, kemampuan pasien, serta manfaat dan keterbatasan setiap teknologi.

“Yang lebih penting adalah memahami indikasi klinis, kemampuan fungsional pasien, serta potensi manfaat dan keterbatasan dari teknologi yang tersedia,” ujarnya.

Zulfaqar mencontohkan, tidak semua pasien amputasi di atas lutut membutuhkan microprocessor knee. Begitu pula tidak semua pasien amputasi tangan cocok menggunakan prostesis myoelectric yang memanfaatkan sinyal listrik otot untuk mengendalikan gerakan perangkat.

Pemilihan komponen prostesis juga perlu mempertimbangkan kekuatan otot, keseimbangan, mobilitas, tujuan rehabilitasi, serta lingkungan dan aktivitas pasien. Kebutuhan pasien yang bekerja dengan sepeda motor, misalnya, dapat berbeda dengan pasien yang lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan atau harus melewati permukaan jalan tidak rata.

Tantangan rehabilitasi tidak berhenti setelah pasien memperoleh prostesis. Evaluasi klinis, latihan penggunaan, serta pemeriksaan dan penyesuaian berkala tetap diperlukan agar perangkat dapat mendukung fungsi secara optimal.

Karena itu, keberhasilan rehabilitasi prostetik membutuhkan kolaborasi antara dokter rehabilitasi medik, prosthetist dan orthotist, fisioterapis, serta tenaga kesehatan lain. Kecanggihan teknologi tetap perlu ditempatkan sebagai alat bantu yang disesuaikan dengan kebutuhan klinis dan kemampuan setiap pasien.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi