Ahad 04 Oct 2026 13:52 WIB

Merawat Asa Literasi di Tengah Sibuknya Zaman

Dari target baca 15 halaman per hari, Burhanuddin kini membaca 150 halaman per hari.

Rep: mg168/ Red: Qommarria Rostanti
Pengunjung membaca buku saat menghadiri acara Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (2/10/2026). Pameran buku Indonesia international Book Fair (IIBF) 2026 merupakan pameran buku tahunan yang menjual buku lokal dan internasional dari sekitar 125 peserta yang mewakili 93 penerbit dan agensi dari 18 negara. Pameran tersebut menjual ribuan judul buku mulai dari fiksi, non fiksi hingga akademik yang berlangsung hingga 4 Oktober 2026.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pengunjung membaca buku saat menghadiri acara Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (2/10/2026). Pameran buku Indonesia international Book Fair (IIBF) 2026 merupakan pameran buku tahunan yang menjual buku lokal dan internasional dari sekitar 125 peserta yang mewakili 93 penerbit dan agensi dari 18 negara. Pameran tersebut menjual ribuan judul buku mulai dari fiksi, non fiksi hingga akademik yang berlangsung hingga 4 Oktober 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rutinitas harian yang padat sering kali dijadikan kambing hitam atas merosotnya minat membaca di tengah masyarakat modern. Padahal, kesibukan tidak serta-merta mampu meredam gairah literasi seseorang yang telah menjadikan buku sebagai bagian dari hidupnya.

Pemandangan menyejukkan ini tampak jelas dalam perhelatan akbar Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026, di mana para pengunjung dari berbagai latar belakang tetap menunjukkan dedikasi tinggi terhadap kebiasaan membaca di sela-sela aktivitas mereka. Suasana pameran literasi tersebut seolah memperlihatkan bahwa kecintaan pada buku tidak lekang oleh waktu, melainkan membutuhkan komitmen personal yang konsisten di tengah gempuran distraksi zaman.

Baca Juga

Seorang pengunjung IIBF 2027, Burhanuddin Elbusiry, bercerita bahwa kebiasaan membaca telah ia pupuk sejak duduk di bangku sekolah menengah atas dengan aturan mandiri berupa target minimal 15 halaman per hari. Seiring berjalannya waktu, disiplin tersebut kian mengakar hingga kapasitas bacaannya melonjak drastis, mampu menembus angka 150 hingga 200 halaman setiap harinya.

“Seberapa sering ya, setiap hari,” kata Burhanuddin saat ditemui Republika di IIBF 2026, Jakarta, Kamis (1/10/2026).

photo
Pengunjung memilah buku saat menghadiri acara Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (2/10/2026). Pameran buku Indonesia international Book Fair (IIBF) 2026 merupakan pameran buku tahunan yang menjual buku lokal dan internasional dari sekitar 125 peserta yang mewakili 93 penerbit dan agensi dari 18 negara. Pameran tersebut menjual ribuan judul buku mulai dari fiksi, non fiksi hingga akademik yang berlangsung hingga 4 Oktober 2026. - (Republika/Thoudy Badai)

 

Demi menjaga ritme tersebut, ia secara khusus mengalokasikan waktu di sela transisi hari, terutama pada pagi hari selepas bangun tidur dan malam hari sebelum beristirahat. Uniknya, ia memilih untuk berdamai dengan literatur cetak ketimbang langsung meraih gawai di pagi hari.

“Waktu kosong membaca itu saya secara pribadi punya kebiasaan itu pas bangun. Saya tidak lihat HP dulu, saya ambil buku dulu,” ujarnya memaparkan strategi disiplin pribadinya.

Meski demikian, Burhanuddin mengakui mobilitas tinggi dan kesibukan sering kali menjadi batu sandungan utama dalam merawat hobi membaca. Kendati demikian, ia memandang bahwa celah-celah waktu luang yang tampak sepele sebenarnya menyimpan potensi besar jika dimanfaatkan secara bijak.

photo
Pengunjung memilah buku saat menghadiri acara Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (2/10/2026). Pameran buku Indonesia international Book Fair (IIBF) 2026 merupakan pameran buku tahunan yang menjual buku lokal dan internasional dari sekitar 125 peserta yang mewakili 93 penerbit dan agensi dari 18 negara. Pameran tersebut menjual ribuan judul buku mulai dari fiksi, non fiksi hingga akademik yang berlangsung hingga 4 Oktober 2026. - (Republika/Thoudy Badai)

 

“Waktu lima menit itu kalau dikali, misalnya banyak gap dari setiap kegiatan, seharusnya yang diambil atau yang dilakukan adalah membaca,” kata dia.

Selain persoalan waktu, dominasi gawai pintar juga menjadi ujian terberat bagi konsistensi pembaca saat ini. Menurutnya, menumbuhkan rasa nyaman dan ikatan batin dengan buku fisik adalah benteng pertahanan terbaik untuk meredam berbagai distraksi digital yang ada di sekitar kita.

 

 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi