REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Setelah genap satu dekade merayakan ragam corak musik Indonesia, Synchronize Fest kembali menyapa para pencinta musik Tanah Air melalui gelaran ke-11 pada 2026. Pada gelaran tahun ini, Synchronize Fest mengajak penonton untuk sejenak menengok masa lalu.
Synchronize Fest kembali fondasi utama yang pernah membakar semangat mereka satu dekade silam melalui tema legendaris, “It’s Not Just a Festival, It’s a Movement”. Pesta musik multigenre ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari penuh, mulai 16 hingga 18 Oktober 2026, berlokasi di arena langganan mereka, Gambir Expo Kemayoran, Jakarta.
Meski diadakan di tempat yang familier, atmosfer yang dibawa kali ini diklaim akan terasa berbeda. Synchronize Fest 2026 berusaha menyandingkan inovasi baru dengan memori lama secara harmonis, menciptakan ruang nostalgia yang tetap relevan bagi perkembangan zaman.
Penggemar setia yang telah mengikuti rekam jejak Synchronize Fest tentu menyadari tema yang diangkat tahun ini serupa dengan apa yang digaungkan pada gelaran perdana mereka pada 2016. Director of Festival, David Karto, mengatakan pascaperayaan satu dekade, tim penyelenggara merasa ada panggilan moral untuk menyegarkan ingatan kolektif publik mengenai identitas asli festival ini.
“Mengapa tahun ini kami mengembalikan tema tersebut, setelah perayaan satu dekade kami merasa harus kilas balik dan mengingat semua gerakan kami. Kami mau belajar kembali dan menyempurnakan sepuluh tahun ke belakang,” jelas David pada acara Press Conference yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Menghadapi pergeseran profil audiens yang kian dinamis menjadi tantangan tersendiri, sekaligus membuka peluang emas. Penonton yang memadati arena festival saat ini bukan lagi sepenuhnya wajah-wajah lama dari dekade sebelumnya.
Director of Communication, Aldila Karina, memandang pergantian generasi ini sebagai fase alami yang harus disikapi secara hangat. Baginya, pergantian audiens bukan berarti harus mengulang seluruh proses dari titik nol, melainkan momentum ideal untuk meneruskan estafet nilai-nilai awal Synchronize Fest kepada penikmat baru.
“Tema Synchronize Fest itu selalu datang dengan natural. Tahun ini, kenapa kembali merayakan tema ini karena kami tahu setelah satu dekade, generasi tumbuh kembang dan menjadi baru lagi. Sekarang Synchronize Festival didominasi dengan generasi yang jauh lebih muda yang mungkin saat tahun 2016 belum bertemu dengan kami,” kata Aldila.
Dia memaparkan, esensi utama dari Synchronize Fest selalu berakar pada pergerakan kolektif. Festival ini berupaya keras memecah sekat-sekat isolasi antargenre maupun generasi, mendorong para musisi untuk saling berbaur dan berkolaborasi secara inklusif.
Pendekatan ini dirancang agar festival mampu menghadirkan pengalaman lintas zaman yang dapat dirasa dekat oleh siapa saja, dari penonton veteran hingga remaja yang baru pertama kali mencicipi keriuhan festival. “Setelah satu dekade, tentu generasinya baru semua. Bukan hanya penonton, tetapi juga penampilnya. Maka dari itu, kami mau membawakan spektrum pergerakan kolektif dari berbagai macam lintas generasi dan lintas zaman, pun genre. Maka, kami membawakan banyak kolektif yang menjadi representasi di zamannya,” ujar Aldila.