REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film dokumenter NAZA, yang membongkar sistem pembunuhan massal di Gaza oleh militer Israel, memuncaki box office Italia. Film garapan sutradara Israel Yuval Abraham dan Rachel Szor itu bahkan mengalahkan perilisan ulang film Marvel Avengers: Endgame Encore.
Dilansir laman Variety, Rabu (30/9/2026), dalam dua hari pertama penayangannya, NAZA meraup sekitar 1,2 juta dolar AS. Sementara itu, Avengers: Endgame Encore hanya mengumpulkan sekitar 404 ribu dolar AS dalam periode dua hari yang sama.
Data box office Italia mencatat, film NAZA langsung menempati posisi puncak pada 28 September dengan pendapatan hari pertama sekitar 451,9 ribu euro dari 60.467 penonton. NAZA dirilis di Italia melalui I Wonder Pictures.
Film tersebut awalnya dijadwalkan tayang sebagai pemutaran khusus selama tiga hari yaitu 28-30 September. Namun, tingginya antusiasme penonton yang terlihat dari ludesnya penjualan tiket membuat masa tayang NAZA diperpanjang. Sejumlah pemutaran bahkan telah terjual habis sebelum film tersebut resmi dirilis.
Selain Italia, film NAZA juga akan tayang di 50 negara termasuk Indonesia. Setelah masa penayangan di bioskop selesai, film ini akan tersedia untuk ditonton secara gratis melalui situs The Guardian pada akhir November 2026
Film dokumenter itu sebelumnya diputar di Festival Film Venesia dan meraih Penghargaan Khusus Juri. NAZA juga mendapat tepuk tangan meriah selama 25 menit setelah pemutarannya di festival tersebut.
Film NAZA mengangkat kesaksian 24 perwira dan prajurit intelijen militer Israel, yang identitasnya dirahasiakan, mengenai operasi militer di Gaza. Film ini memperlihatkan secara rinci sistem yang berada di balik operasi pembunuhan massal warga sipil Palestina di Gaza, NAZA dibuat secara rahasia selama sekitar tiga tahun.
Judul film ini diambil dari istilah eufemisme intelijen berbahasa Ibrani yang digunakan untuk menunjukkan perkiraan jumlah warga sipil Gaza yang akan meninggal dalam suatu serangan udara. Menurut sumber militer IDF, sistem berbasis Al yang dikenal. sebagai "Lavender" memanfaatkan jaringan telekomunikasi Gaza termasuk panggilan telepon, pergerakan, dan berbagai interaksi, untuk mengidentifikasi target pembunuhan.
Salah satu sumber menggambarkan proses tersebut dilakukan dalam skala massal seperti sebuah pabrik. Narasumber lain yang terlibat dalam identifikasi target mengatakan proses itu seperti video game.
"Prosesnya seperti permainan video, karena semuanya dilakukan dari jarak jauh dan terasa sangat menyenangkan," kata sumber militer Israel perihal teknologi Al yang dirancang guna membunuh warga Gaza. Beberapa sumber juga berbicara mengenai penghancuran rumah warga sipil, pengabaian terhadap hukum kemanusiaan, serta suasana umum yang penuh kebencian terhadap warga Palestina.