REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belakangan ini, muncul klaim bahwa mengonsumsi suplemen magnesium sebelum tidur dapat membuat tidur lebih berkualitas. Mineral tersebut dinilai dapat membantu tubuh lebih rileks sehingga seseorang bisa bangun dengan kondisi lebih segar. Namun apakah klaim itu benar?
Dokter sekaligus dosen di IPB University, dr Yunita Aryani, mengatakan magnesium memang memiliki peran dalam berbagai proses tubuh yang berkaitan dengan kualitas tidur. Meski demikian, magnesium tidak dapat disamakan dengan obat tidur.
"Magnesium membantu mengatur aktivitas saraf, relaksasi otot, serta ritme tidur-bangun. Tetapi magnesium bukan satu-satunya mineral yang mendukung kualitas tidur," kata dr Yunita dalam keterangan tertulis, dikutip pada Selasa (29/9/2026).
la menjelaskan, asupan magnesium yang lebih tinggi berhubungan dengan kualitas tidur yang lebih baik serta kemungkinan tidur dengan durasi pendek yang lebih rendah. Akan tetapi, penelitian mengenai hubungan tersebut belum membuktikan bahwa konsumsi magnesium secara langsung menyebabkan kualitas tidur menjadi lebih baik.
Di dalam tubuh, magnesium memiliki sejumlah fungsi yang berkaitan dengan mekanisme tidur. Salah satunya membantu menstabilkan aktivitas saraf dan mengurangi rangsangan berlebihan pada jalur glutamat/NMDA. Glutamat merupakan asam amino yang bertindak sebagai bahan kimia penstimulasi di otak.
Selain itu, magnesium juga mendukung kerja gamma-aminobutyric acid (GABA) yakni neurotransmiter penghambat aktivitas sistem saraf yang membantu otak berada dalam kondisi lebih tenang. Magnesium juga berperan dalam pengaturan kalsium dan kalium serta mendukung ritme sirkadian dan jalur melatonin.
"Jadi sangat tidak tepat jika magnesium dikatakan sebagai obat tidur atau membuat mengantuk," kata dia.
Yunita juga mengingatkan bahwa sulit tidur atau sering terbangun pada malam hari tidak otomatis menjadi tanda bahwa tubuh kekurangan magnesium. Salah satu kondisi yang dapat berperan adalah hyperarousal.
Kondisi ini terjadi ketika tubuh sebenarnya sudah merasa lelah, tetapi otak dan sistem saraf masih berada dalam kondisi aktif. Akibatnya, mekanisme tubuh untuk memasuki kondisi tidur tidak dapat bekerja secara optimal.
L