REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ruam pada area popok merupakan salah satu masalah kulit yang umum dialami bayi. Meski kerap dianggap ringan, iritasi yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan kulit menjadi lecet dan meningkatkan risiko terjadinya infeksi sekunder.
American Academy of Pediatrics (AAP) menyebut dermatitis iritan sebagai salah satu jenis ruam popok yang paling umum. Kondisi tersebut terutama berkaitan dengan kontak kulit yang terlalu lama dengan urine dan feses. Kelembapan, gesekan, serta penggunaan produk tertentu seperti tisu basah, krim, atau popok yang mengandung bahan pemicu alergi juga dapat memperburuk kondisi kulit.
Kulit bayi juga relatif lebih rentan mengalami iritasi. Ketika kulit di area popok terus-menerus berada dalam kondisi lembap dan bergesekan dengan popok, lapisan pelindung kulit dapat terganggu.
Pada kondisi yang lebih berat, kulit dapat menjadi sangat merah, lecet, bahkan mengalami luka. Kulit yang mengalami iritasi juga dapat mengalami infeksi sekunder, termasuk infeksi jamur Candida atau bakteri. Infeksi jamur umumnya ditandai dengan kemerahan yang lebih terang dan dapat disertai bintil-bintil kecil di sekitar ruam.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan kondisi kulit bayi setiap kali mengganti popok. Salah satu langkah penting adalah tidak membiarkan popok basah atau kotor terlalu lama. Kulit juga sebaiknya dibersihkan secara lembut menggunakan air atau tisu basah yang bebas alkohol dan pewangi, kemudian dikeringkan tanpa menggosoknya terlalu keras.
Orang tua juga perlu memastikan ukuran popok tidak terlalu ketat sehingga menimbulkan gesekan pada kulit. Memberikan kesempatan bagi area popok untuk terkena udara juga dapat membantu menjaga kulit tetap kering.