Senin 28 Sep 2026 15:40 WIB

Ulasan Film Animasi Forgotten Island: Hangat, Personal, dan Bikin Nostalgia

Kisah Forgotten Island berpusat pada persahabatan dua perempuan Filipina.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Salah satu adegan di film animasi Forgotten Island. Film ini mengundang penonton menelusuri lorong kenangan masa kecil sekaligus menyelami keindahan mitologi Filipina yang jarang tersentuh di layar lebar global.
Foto: Dok. DreamWorks
Salah satu adegan di film animasi Forgotten Island. Film ini mengundang penonton menelusuri lorong kenangan masa kecil sekaligus menyelami keindahan mitologi Filipina yang jarang tersentuh di layar lebar global.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Nostalgia dan persahabatan sering kali menjadi dua elemen paling ampuh dalam menyentuh hati penonton. Ketika keduanya dipadukan dengan eksplorasi budaya yang kaya, hasil yang lahir bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah karya yang terasa hangat dan personal.

Hal itulah yang dicoba dihadirkan oleh DreamWorks lewat film animasi terbarunya, Forgotten Island. Disutradarai oleh duo sineas di balik kesuksesan Puss in Boots: The Last Wish, Joel Crawford dan Januel P Mercado, film ini mengundang penonton menelusuri lorong kenangan masa kecil sekaligus menyelami keindahan mitologi Filipina yang jarang tersentuh di layar lebar global.

Baca Juga

Kisah Forgotten Island berpusat pada Jo dan Raissa, dua perempuan asal Filipina yang tumbuh bersama dengan jalinan ikatan yang sangat erat. Sejak kecil, keduanya berbagi mimpi yang sama yaitu menemukan Nakali, sebuah dunia legendaris yang bersumber dari mitos dan dongeng lokal.

Saat usia mereka beranjak dewasa dan kenyataan hidup mulai menuntut kompromi, sebuah peristiwa tak terduga justru membawa mereka terdampar di pulau impian tersebut. Dari sinilah petualangan sejati dimulai, menyajikan dinamika persahabatan perempuan yang autentik, penuh kejutan, serta memperlihatkan sisi kekacauan dan keberanian nyata yang kerap dihadapi oleh para perempuan.

photo
Poster film Forgotten Island. Disutradarai oleh duo sineas di balik kesuksesan Puss in Boots: The Last Wish, Joel Crawford dan Januel P Mercado, film ini mengundang penonton menelusuri lorong kenangan masa kecil sekaligus menyelami keindahan mitologi Filipina yang jarang tersentuh di layar lebar global. - (Dok. DreamWorks )

 

Daya tarik utama dari film ini tidak hanya terletak pada visualnya yang memanjakan mata, tetapi juga pada napas personal yang dihembuskan oleh para pembuatnya. Keputusan DreamWorks untuk mengangkat latar mitologi Filipina bukanlah sekadar pilihan estetika pasar, melainkan sebuah bentuk penghormatan mendalam dari masa kecil sang sutradara.

Head of Marketing Universal Pictures Indonesia, Julius Suhakri, mengatakan latar belakang emosional kedua sutradara menjadi fondasi utama lahirnya proyek animasi ini. “Sutradaranya, salah satunya adalah orang Filipina, jadi ini cerita dari masa kecilnya (Januel). Sementara, istri Joel adalah orang Filipina. Jadi mereka berdua memang punya hubungan yang sangat dekat dengan budaya Filipina dan memutuskan untuk membuat projek ini sebagai sebuah homage,” ujar Julius kepada Republika pada acara premiere yang diselenggarakan di Jakarta pada akhir pekan lalu.

Menariknya, meskipun Forgotten Island disutradarai oleh dua pria, narasi yang dibangun terasa sangat tulus dan peka dalam menangkap dinamika hubungan antarpemerempuan. Karakter Jo dan Raissa tidak dibentuk dari stereotipe atau asumsi dangkal, melainkan diilhami langsung oleh sosok-sosok nyata yang hadir dan melengkapi kehidupan kedua sutradara tersebut. Hal ini membuat interaksi antar-karakter di layar terasa amat hidup dan tidak dibuat-buat.

“Kedua karakter perempuan di film ini, adalah karakter-karakter perempuan yang sangat dekat di hidup mereka. Salah satu karakter ini juga sangat mirip dengan saudara perempuan Januel dan ada yang mirip dengan istrinya Joel,” ujar Julius.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi