REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengisi suara anime asal Jepang, Kenjiro Tsuda, menggugat TikTok terkait sejumlah video yang diduga menggunakan suara hasil kloning kecerdasan buatan (Al) dari suara khasnya. Putusan perkara tersebut dijadwalkan dibacakan Pengadilan Distrik Tokyo pada Rabu (2/10/2026).
Gugatan Tsuda, yang dikenal lewat peran utamanya dalam waralaba besar seperti Jujutsu Kaisen, menjadi kasus pertama di Jepang yang berupaya melindungi identitas vokal seseorang dari tiruan hasil Al. Tsuda menuntut TikTok menghapus sejumlah video yang dinarasikan dengan suara khasnya.
Video yang dipersoalkan Tsuda diunggah oleh sebuah akun anonim. Foto profil akun tersebut menyerupai karakter Jujutsu Kaisen yang diperankan oleh Tsuda. Video-video itu menggabungkan gambar dengan narasi yang diduga dibuat menggunakan Al. Materinya antara lain membahas legenda urban, fenomena okultisme, dan teori konspirasi.
Dalam gugatan, tim hukum Tsuda menyebut akun tersebut pernah memiliki lebih dari 200 ribu pengikut. Akun itu juga disebut dapat menghasilkan pendapatan lebih dari 500 ribu yen (sekitar Rp57 juta) per bulan.
"Akun tersebut, yang unggahannya sebagiam besar minim substansi orisinal, hanya meraih popularitas karena kontennya dinarasikan oleh suara memikat Tsuda," kata kuasa hukum Tsuda dilansir laman Japan Today, Ahad (27/9/2026).
Menurut tim hukum Tsuda, penggunaan suara tersebut melanggar hak publisitas. Hak tersebut pada dasarnya memberikan seseorang kemampuan untuk mengendalikan penggunaan dan memperoleh keuntungan dari aspek tertentu dari identitasnya.
Perkara ini mendapat dukungan dari sejumlah pengisi suara Jepang. Direktur eksekutif Japan Actors Union sekaligus pengisi suara, Yuko Sasaki, mengatakan suara seorang aktor merupakan hasil dari pelatihan dan proses pembelajaran yang ketat selama bertahun-tahun.
Menurut Sasaki, para aktor menghabiskan banyak waktu dan uang untuk menyempurnakan kemampuan mereka. "Kami mendukung Tsuda sepenuhnya. Pengadilan seharusnya mengakui bahwa kepemilikan atas suara seseorang merupakan hak fundamental," kata Sasaki.
Sasaki bersama sejumlah pengisi suara Jepang lainnya juga meluncurkan kampanye bernama "No More" untuk menentang penggunaan Al generatif dalam meniru suara pekerja seni tanpa izin.