REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktris Florence Pugh mengatakan, ia kemungkinan kehilangan ratusan ribu followers di media sosial dalam beberapa tahun terakhir karena sikapnya mendukung Palestina. Meski begitu, peraih nominasi Oscar itu mengaku tidak pernah merasa takut untuk menyuarakan dukungan terhadap Palestina.
Hal itu diungkap dalam sebuah wawancara dengan Vanity Fair. Pugh bahkan mengapa butuh waktu cukup lama bagi banyak orang untuk mulai berbicara dan menunjukkan simpati terhadap Palestina, terutama di Hollywood.
"Saya tidak pernah takut bersuara untuk Palestina. Dan anehnya, mengapa banyak orang yang memilih diam. Hal itu justru membuat saya semakin bingung, dan yakin bahwa langkah saya untuk membicarakannya adalah hal yang benar," kata Pugh dilansir laman Variety, Ahad (27/9/2026).
Pugh diketahui rutin membagikan tautan bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina melalui media sosial. la juga menjadi sorotan pada September 2025 setelah muncul secara mengejutkan dalam acara penggalangan dana Together for Palestine.
Kehadiran Pugh dalam acara tersebut terjadi di tengah jadwal produksinya untuk film Avengers: Doomsday. la mengatakan berterima kasih kepada orang-orang yang membantunya dapat menghadiri acara tersebut meskipun jadwal konser bertabrakan dengan proses produksi film.
"Diam di tengah penderitaan seperti ini bukanlah sikap netral. Diam adalah bentuk keterlibatan," kata Pugh di atas panggung Together for Palestine.
Acara tersebut berhasil mengumpulkan lebih dari 2 juta dolar AS atau sekitar Rp35 miliar untuk organisasi-organisasi kemanusiaan. Sejumlah musisi tampil dalam acara penggalangan dana tersebut, di antaranya Gorillaz, King Krule, Brian Eno, PinkPantheress, Cat Burns, Bastille, James Blake, dan Sampha.
Hingga kini, Pugh mengaku tak bisa mengabaikan isu Palestina karena penderitaan warga sipil terus berlangsung. "Ini masih terjadi. Bayi-bayi masih meninggal. Para ibu masih kesakitan. Sungguh mengerikan melihat penderitaan seperti itu," kata dia.
Pugh juga mengaku kerap merasa bersalah ketika dia membagikan postingan tentang kehidupan sehari-hari atau kesenangan di media sosialnya. Karena di saat yang sama, anak dan rakyat Palestina masih mengalami penderitaan.
"Saya rasa itulah yang paling sulit saya hadapi dari media sosial juga. Bagaimana saya bisa mengatakan bahwa saya sedang bersenang-senang ketika, hanya dengan menggulir sedikit ke atas, saya melihat seorang bayi yang kehilangan ibu dan ayahnya?" kata dia.