Senin 28 Sep 2026 09:50 WIB

Mengapa Denyut Jantung Naik padahal Kecepatan Lari Tetap? Ini Kata Dokter

Cardiac drift lebih mudah terlihat pada olahraga berdurasi panjang.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Ilustrasi lari. Cardiac drift dalam batas tertentu merupakan respons fisiologis normal tubuh terhadap aktivitas fisik yang berlangsung cukup lama.
Foto: Republika/Daan Yahya
Ilustrasi lari. Cardiac drift dalam batas tertentu merupakan respons fisiologis normal tubuh terhadap aktivitas fisik yang berlangsung cukup lama.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pernah merasakan denyut jantung semakin cepat ketika berlari dalam waktu lama, padahal kecepatan relatif tetap sama? Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan cardiac drift, yakni peningkatan denyut jantung secara bertahap selama olahraga berkepanjangan meskipun intensitas atau pace relatif tidak berubah.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sekaligus dosen di UMY, dr Gagah Buana Putra, mengatakan cardiac drift dalam batas tertentu merupakan respons fisiologis normal tubuh terhadap aktivitas fisik yang berlangsung cukup lama. “Semakin lama kita berolahraga, ada perubahan fisiologi tubuh yang mulai menghadapi beberapa tantangan. Suhu tubuh meningkat, kita mulai berkeringat dan kehilangan cairan,” kata dr Gagah dalam keterangan tertulis dikutip pada Senin (28/9/2026).

Baca Juga

Menurutnya, peningkatan suhu tubuh dan kehilangan cairan dapat menurunkan volume darah yang beredar. Di sisi lain, otot tetap membutuhkan pasokan darah dan oksigen. Untuk mempertahankan kebutuhan tersebut, jantung kemudian meningkatkan frekuensi denyutnya.

Sebagai contoh, seseorang yang berlari dengan pace yang sama dapat memiliki denyut jantung 130 kali per menit pada awal latihan, kemudian meningkat menjadi 140–150 kali per menit setelah 30–40 menit. Kondisi tersebut tidak selalu berarti jantung mengalami gangguan.

“Yang tadinya cukup dengan memompa 130 kali per menit, sekarang harus 140–150 kali per menit untuk memenuhi kebutuhan tubuh tadi. Nah, itu yang kita sebut cardiac drift,” kata dia.

Menurut dr Gagah, cardiac drift lebih mudah terlihat pada olahraga berdurasi panjang, seperti lari jarak jauh, maraton, dan bersepeda. Selain peningkatan suhu dan kehilangan cairan, durasi, intensitas latihan, serta kelelahan turut memengaruhi fenomena tersebut.

Ketika tubuh semakin panas, lebih banyak darah dialirkan ke kulit untuk membantu pelepasan panas. Pada saat yang sama, otot tetap membutuhkan suplai darah untuk mempertahankan aktivitas. Kelelahan juga membuat upaya mempertahankan pace yang sama terasa lebih berat.

“Walaupun dari luar kecepatannya tampak sama, beban yang dirasakan tubuh sebenarnya sudah lebih tinggi,” kata dr Gagah.

Meski demikian, masyarakat perlu membedakan cardiac drift yang normal dengan tanda yang memerlukan perhatian. Denyut jantung yang meningkat disertai tubuh sangat lemas, pusing, rasa haus berlebihan, atau kesulitan mempertahankan aktivitas dapat menunjukkan tubuh mulai kewalahan.

Sementara itu, nyeri dada, pingsan, sesak napas berat, atau jantung berdebar sangat cepat dan mengganggu tidak sebaiknya dianggap sebagai cardiac drift biasa. “Kalau muncul nyeri dada, pingsan, sesak napas berat, atau jantung berdebar tidak karuan yang sangat cepat dan mengganggu, maka itu tidak boleh dianggap sekadar cardiac drift biasa,” kata dia.

 

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi