Rabu 23 Sep 2026 10:26 WIB

Setop Impulsif! Ini Cara Ngefans Idola tanpa Bikin Kantong Jebol

Tanda bahaya muncul ketika kamu mementingkan barang idola dibanding kebutuhan pokok.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Uang rupiah (ilustrasi). Perilaku mengidolakan musisi atau figur publik lainnya kini tidak lagi sekadar bentuk pengaguman karya, melainkan telah merambah hingga ke pola konsumsi sehari-hari.
Foto: dok. Pixabay
Uang rupiah (ilustrasi). Perilaku mengidolakan musisi atau figur publik lainnya kini tidak lagi sekadar bentuk pengaguman karya, melainkan telah merambah hingga ke pola konsumsi sehari-hari.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perilaku mengidolakan musisi atau figur publik lainnya kini tidak lagi sekadar bentuk pengaguman karya, melainkan telah merambah hingga ke pola konsumsi sehari-hari. Mulai dari meniru gaya hidup, mengoleksi merchandise, hingga membeli barang-barang tertentu yang digunakan sang idola, sering kali mendorong penggemar masuk ke dalam lingkaran konsumerisme tanpa disadari.

Menanggapi fenomena tersebut, sosiolog dari Universitas Airlangga, Pingkan Sekar Savira mengatakan ada pemicu psikologis-sosial di balik perilaku konsumtif ini. Menurutnya, perilaku konsumtif hingga sifat impulsif yang penggemar alami merupakan hal yang dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks.

Baca Juga

Salah satu pemicu utamanya adalah dorongan untuk menunjukkan identitas sosial, di mana mana penggemar terdorong membeli produk tertentu untuk memperlihatkan afiliasi mereka terhadap komunitas penggemar atau fandom di ruang publik. Selain itu, terdapat pula fenomena social proof dan FOMO (Fear of Missing Out). Paparan konten di media sosial yang memperlihatkan para penggemar membeli barang koleksi hingga tiket konser mendorong penggemar lain untuk melakukan hal serupa. Hal ini semakin diperkuat dengan adanya hubungan parasosial sebagai ikatan emosional satu arah yang dirasakan penggemar terhadap idolanya.

"Banyak faktor yang memengaruhi perilaku tersebut. Mulai dari keinginan menunjukkan identitas sosial hingga jebakan dari strategi pemasaran industri yang kapitalis. Ketika penggemar tidak memiliki self-control, konsumtivitas tersebut bahkan bisa mengarah pada pembelian impulsif," kata Pingkan dalam keterangan tertulis, dikutip pada Selasa (22/9/2026).

photo
Para penggemar grup musik Korea Selatan BTS berdemonstrasi di Santiago, Cile, 5 Juli 2026. Ratusan penggemar BTS berkumpul untuk memprotes keputusan Pemerintah Cile yang membatalkan tiga konser grup K-pop tersebut. BTS dijadwalkan tampil pada Oktober 2026 di Stadion Nasional ibu kota. - (Dok. EPA/JAVIER TORRES)

 

Garis batas antara mengagumi dan konsumerisme dapat terlihat ketika seseorang mulai memaksakan diri di luar kemampuan finansianya. Pingkan menegaskan, tanda bahaya muncul saat pembelian barang-barang berbau idola mulai mengabaikan kebutuhan pokok. Bahkan hingga mengeksploitasi dan menyusahkan diri sendiri demi mengejar atau mengoleksi produk yang dinginkan.

"Jika perilaku konsumsi tersebut sudah terasa menyiksa, menuntut hal di luar batas kemampuan materil, dan mengganggu pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, di situlah seseorang telah kehilangan kontrol diri," ujar Pingkan.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi