Kamis 17 Sep 2026 15:32 WIB

Kenali Ciri Depot Air Isi Ulang yang Bersih dan Layak Minum

Keamanan air isi ulang bergantung pada kualitas sumber air hingga proses pengolahan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Warga mengisi air ke dalam galon di depot air minum isi ulang galon (ilustrasi).
Foto: Prayogi/Republika.
Warga mengisi air ke dalam galon di depot air minum isi ulang galon (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Depot air minum isi ulang menjadi salah satu pilihan masyarakat indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Selain mudah ditemukan, air isi ulang juga menawarkan harga yang lebih ekonomis dibandingkan sejumlah pilihan air minum kemasan.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Indikator Kesehatan Perumahan dan Lingkungan Tahun 2024 mencatat, 34,49 persen rumah tangga di Indonesia menjadikan air isi ulang sebagai sumber utama buat minum. Angka itu tertinggi di antara pengguna sumber air minum lainnya.

Baca Juga

Pertanyaannya, sejauh apa tingkat keamanan air minum isi ulang? Pakar pencemaran dan ekotoksikologi IPB University, Prof Etty Riani, mengatakan tingkat keamanan air sangat bergantung pada kualitas sumber air, proses pengolahan, kondisi fasilitas, kebersihan operator, serta penanganan setelah pengisian.

"Risikonya bisa berbeda-beda, dari mulai rendah sampai tinggi. Besarnya risiko sangat bergantung pada kualitas sumber air, pengolahannya, efektif atau tidak, kondisi fasilitasnya bagaimana, kehigienisan operator seperti apa, dan bagaimana penanganannya setelah pengisian," kata Prof Etty dalam keterangan tertulis, Senin (14/9/2026).

photo
Air isi ulang. - (Dok Republika)

 

Menurutnya, kualitas air baku menjadi salah satu faktor utama yang harus diperhatikan. Sumber air yang tercemar limbah domestik, septic tank, aktivitas pertanian, limbah industri, hingga pertambangan dapat membawa berbagai jenis pencemar yang belum tentu seluruhnya dapat dihilangkan melalui teknologi penyaringan.

"Jangan sampai sumber air tercemar oleh limbah domestik dan septic tank, aktivitas pertanian seperti pupuk dan pestisida, limbah industri, pertambangan, dan sebagainya. Teknologi penyaringan belum tentu mampu membuang semua jenis pencemar tersebut karena kemampuan dan keterbatasannya yang berbeda-beda," kata dia.

Prof Etty menjelaskan, kontaminan pada air isi ulang dapat berupa mikrobiologis, seperti bakteri, virus, dan protozoa, maupun kimia, seperti arsen, timbal, kadmium, kromium, nitrat, nitrit, besi, mangan, aluminium, pestisida, dan hidrokarbon. Air yang telah memenuhi persyaratan juga dapat kembali tercemar setelah proses pengolahan, Selang, keran, tangki, filter, galon, serta tangan operator dapat menjadi sumber kontaminasi apabila tidak dijaga kebersihannya.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi