REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bukan lagi sekadar wacana masa depan bagi lanskap bisnis di Indonesia, melainkan realitas operasional yang berkembang pesat. Berdasarkan studi oleh Amazon Web Services (AWS) pada 2025, sebanyak 28 persen bisnis di Indonesia atau setara dengan sekitar 18 juta perusahaan telah mengadopsi AI.
Angka tersebut mencerminkan lonjakan signifikan hingga 47 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di tingkat tenaga kerja, laporan Microsoft 2026 Work Trend Index menguatkan tren ini dengan mencatat bahwa 33 persen pekerja di Indonesia kini tergolong sebagai frontier professionals yaitu para pengguna AI tingkat lanjut yang menerapkan teknologi secara lebih strategis dalam pekerjaan.
Meski demikian, tingginya tingkat adopsi belum otomatis menunjukkan bahwa AI telah terintegrasi secara menyeluruh ke dalam sistem bisnis. Banyak organisasi masih menghadapi kenyataan bahwa pemanfaatan AI yang ada saat ini baru menyentuh permukaan. AWS menemukan bahwa 76 persen bisnis di Indonesia yang menggunakan AI masih sebatas memanfaatkannya untuk kebutuhan dasar, seperti meningkatkan efisiensi dan menyederhanakan proses.
"Tantangan utama bisnis saat ini bukan lagi sekadar mengadopsi AI, melainkan menyambungkannya secara langsung ke dalam aliran data dan operasional perusahaan," ujar Chairman dan CEO Getfly Technology JSC, Nguyen Huy Hoang, dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Rabu (16/9/2026).
Langkah berikutnya yang dinilai penting dilakukan adalah menghubungkan kecerdasan buatan tersebut dengan alur kerja dan data bisnis yang sudah berjalan. Sering kali, data penting seperti profil pelanggan, riwayat penjualan, dan laporan operasional masih terfragmentasi dalam berbagai sistem terpisah, mulai dari percakapan WhatsApp dan lembar kerja spreadsheet hingga database pemasaran dan laporan manual.
Ketika AI tidak terhubung dengan data serta proses tersebut, teknologi ini memiliki kemampuan untuk memberikan jawaban tetapi tidak selalu memiliki konteks yang cukup untuk menghasilkan rekomendasi yang relevan bagi bisnis. Perkembangan ini mendorong pergeseran dari sekadar Generative AI menuju Agentic AI yang dapat berperan lebih aktif dalam operasional, mulai dari memantau informasi hingga mengidentifikasi masalah dan merekomendasikan tindakan.
“Pergeseran ke arah agentic AI memungkinkan teknologi bekerja melampaui pemrosesan teks biasa untuk memberikan rekomendasi tindakan yang nyata dan relevan bagi bisnis,” ujarnya.
Sebagai contoh, AI agent yang terhubung dengan sistem CRM dapat mendeteksi leads yang belum di-follow up tepat waktu dan memberikan notifikasi kepada karyawan yang bertanggung jawab. Perubahan tersebut menempatkan AI bukan lagi sekadar tools yang digunakan sesekali oleh karyawan, melainkan sebagai lapisan cerdas yang terintegrasi dengan operasional perusahaan.
Tren ini didukung pula oleh pertumbuhan pasar AI Indonesia. Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat pendapatan aplikasi berbasis AI di Indonesia meningkat 127 persen secara year-on-year antara paruh pertama 2024 dan paruh pertama 2025.