Rabu 16 Sep 2026 14:36 WIB

1.500 Sineas Global Bela Sutradara Film NAZA yang Terancam Dicabut Kewarganegaraannya

Kedua sutradara film NAZA menghadapi tekanan dari otoritas Israel.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Sutradara asal Israel, Rachel Szor (kiri) dan Yuval Abraham, tiba untuk pemutaran perdana film Naza di Festival Film Venesia ke-83 di Venesia, Italia, pada 10 September 2026. Film tersebut ditampilkan dalam kompetisi resmi Venezia 83 di festival yang berlangsung dari tanggal 2 hingga 12 September 2026.
Foto: Dok. EPA/ETTORE FERRARI
Sutradara asal Israel, Rachel Szor (kiri) dan Yuval Abraham, tiba untuk pemutaran perdana film Naza di Festival Film Venesia ke-83 di Venesia, Italia, pada 10 September 2026. Film tersebut ditampilkan dalam kompetisi resmi Venezia 83 di festival yang berlangsung dari tanggal 2 hingga 12 September 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lebih dari 1.500 insan perfilman menandatangani petisi yang menyatakan solidaritas kepada sutradara film dokumenter NAZA, Yuval Abraham dan Rachel Szor. Dukungan ini muncul setelah kedua sutradara menghadapi tekanan dari otoritas Israel karena membongkar taktik genosida militer Israel di Gaza.

Sejumlah pembuat film terkemuka asal Israel turut menandatangani petisi tersebut. Mereka antara lain Ari Folman, Nadav Lapid, Orna Ben-Dor Niv, Hagai Levi, dan Shlomi Elkabetz. "Dalam beberapa hari terakhir, kami telah menyaksikan kampanye hasutan dan provokasi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap para pembuat film ini," demikian bunyi petisi tersebut dilansir laman Variety, Rabu (16/9/2026).

Baca Juga

Mereka khawatir kecaman dan ancaman terhadap Abraham dan Szor semakin mengarah para kekerasan fisik yang membahayakan nyawa mereka. Karena itu, petisi itu menyerukan semua pihak untuk mendukung serta bersolidaritas kepada Rachel Szor dan Yuval Abraham.

"Peran utama seni dan jurnalisme adalah menjadi cermin bagi masyarakat tempat mereka berada, serta menciptakan wacana dan diskusi tanpa prasangka, bahkan ketika kenyataan yang dihadapi terasa berat," kata petisi tersebut.

Sebelumnya Menteri Kebudayaan Israel, Miki Zohar, mengancam akan mencabut kewarganegaraan dua sutradara film dokumenter NAZA, Yuval Abraham dan Rachel Szor. Zohar menuduh kedua sineas tersebut telah mengkhianati negara, sehingga layak untuk dicabut kewarganegaraannya.

"Kebencian terhadap diri sendiri yang berkobar dalam diri para sutradara, yang rela mencelakai tanah air hanya demi mendapat tepuk tangan dari para antisemit di seluruh dunia, sungguh tidak masuk akal dan merupakan pengkhianatan terhadap negara. Sebagai Menteri Kebudayaan, saya akan segera bertindak untuk mencabut kewarganegaraan Israel mereka," kata Zohar.

Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, juga dilaporkan telah menginstruksikan pejabat hukum tertinggi militer untuk mengkaji langkah hukum terhadap film NAZA yang dianggap mencemarkan nama baik militer. Ancaman hukum dan pencabutan kewarganegaraan itu terjadi setelah dokumenter NAZA mendapat penghargaan Special Jury Prize di Festival Film Venesia. Pada penayangan perdananya di festival, film ini juga meraih standing ovation terlama dalam sejarah festival tersebut yaitu mencapai 25 menit.

Saat menerima penghargaan di Venesia, Yuval Abraham mengaku tidak mudah berdiri di panggung tersebut karena memikirkan begitu banyak serangan dari politikus dan jurnalis Israel. "Sejujurnya, tidak mudah berdiri di sini, sambil memikirkan semua politikus dan jurnalis Israel yang kini menyerang film ini dan menyangkalnya bahkan sebelum mereka tonton. Begitu banyak hal dilakukan agar kita tidak melihat kenyataan," kata Abraham.

Sutradara peraih Oscar atas film No Other Land, yang digarap bersama sineas Palestina Basel Adra dan Hamdan Ballal, menegaskan bahwa penyangkalan terhadap kejahatan justru mendukung kejahatan itu terus berlangsung. Karenanya menurut dia, penting bagi warga Israel untuk menonton film NAZA.

"Maka dari itu sangat penting bagi kami agar warga Israel menonton film ini. Negara kami sendirilah yang melakukan kejahatan-kejahatan tersebut," kata Abraham.

Abraham juga menyerukan masyarakat Eropa terutama Italia untuk menonton film tersebut. Pasalnya menurut dia pemerintah Italia dan Jerman turut menghambat upaya untuk menekan Israel agar menghentikan genosida di Gaza.

"Untuk warga Amerika kalian juga harus menontonnya, karena negara kalianlah yang mendanai sebagian besar pembunuhan ini," kata Abraham.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi