Rabu 16 Sep 2026 14:35 WIB

AI Disebut Bisa Memusnahkan Umat Manusia, Seberapa Besar Bahayanya?

Manusia bakal berhadapan dengan entitas buatan yang tak bisa dikendalikan.

Artificial Intelligence (AI). (ilustrasi)
Foto: Dok. Universitas BSI
Artificial Intelligence (AI). (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sebuah peneliti yang mundur dari perusahaan Anthropic  menyatakan bahwa artificial intelligence alias akal imitasi (AI) dapat "membunuh seluruh umat manusia" sebelum akhir dekade ini dan menarik perhatian luas pekan lalu. Prediksi itu memicu kekhawatiran publik mengenai bahaya yang ditimbulkan oleh pesatnya perkembangan teknologi tersebut.

Seorang peneliti kecerdasan buatan (AI) yang mengundurkan diri dari perusahaan AI Anthropic mengungkapkan bahwa orang-orang yang mengembangkan teknologi tersebut merasa "benar-benar takut" akan pesatnya kemajuan teknologi itu serta dampaknya bagi umat manusia.

"Saya yakin jika kita tidak memperlambat laju kemajuan saat ini, ada kemungkinan besar kita semua bisa mati dalam waktu dekat," ujarnya.

Jacob Coxon menyampaikan hal ini kepada BBC setelah unggahannya mengenai bahaya AI menjadi viral di tengah meningkatnya kekhawatiran terkait aspek keselamatan dalam industri tersebut.

Mantan atasan pria berusia 27 tahun itu, yakni pimpinan Anthropic Dario Amodei, baru-baru ini menyerukan perlambatan pengembangan AI—meskipun ada pihak yang mempertanyakan motivasi di balik seruan tersebut.

Pimpinan dua perusahaan AI pesaing, Sam Altman dari OpenAI dan Elon Musk dari xAI, menyatakan dukungannya terhadap usulan Amodei mengenai perlambatan dan regulasi di seluruh industri, serta perlunya pengawasan independen terhadap pengembangan model AI.

photo
Pengusaha teknologi AS Elon Musk. - (EPA-EFE/ANGELO CARCONI)

Dalam sebuah esai yang ditulisnya pada hari Sabtu, Amodei menyatakan bahwa pengembangan teknologi itu sendiri tidak dipermasalahkan, namun risiko yang menyertainya tergolong "serius", sehingga perusahaan dan pemerintah perlu diberi waktu untuk menanganinya.

Peringatan ini memunculkan pertanyaan mengenai alasan mengapa sejumlah pakar industri meyakini bahwa AI membawa risiko yang begitu ekstrem, serta bagaimana teknologi yang banyak digunakan orang melalui chatbot di ponsel mereka itu bisa berujung pada musnahnya umat manusia.

Dilansir CBC, Para pakar menyatakan bahwa kekhawatiran tersebut bermula dari pesatnya kemajuan AI dan semakin banyaknya bukti—seperti insiden serangan siber terhadap Hugging Face pada bulan Juli—yang menunjukkan bahwa sistem AI dapat lepas dari kendali manusia dan bertindak dengan cara-cara yang tidak kita inginkan, bahkan dengan cara-cara yang tidak kita pahami.

Mark Daley, Chief AI Officer di Western University di London, Ontario, mengibaratkan situasi tersebut seperti perbandingan antara koloni semut dan manusia.

"Semut itu tidak bodoh, tetapi mereka tidak secerdas kita. Bahkan, semut yang berada di jalan masuk rumah Anda mungkin tidak bisa memahami konsep tentang apa yang sedang Anda lakukan sebagai manusia," ujarnya.

"Jadi, kekhawatirannya adalah jika kita menciptakan sesuatu yang jauh lebih cerdas daripada kita, kita benar-benar tidak akan bisa memahaminya."

 

 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi