REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau disebut sudah tidak lagi masuk ke wilayah ibu kota. Namun, kondisi cuaca Jakarta yang masih kering dan berdebu membuat masyarakat tetap perlu memperhatikan kesehatan kulit, khususnya wajah yang menjadi bagian tubuh paling sering terpapar udara luar.
Paparan debu dan partikel halus di udara tidak hanya dapat mengganggu saluran pernapasan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kondisi kulit. Kulit yang terpapar dalam waktu lama dapat mengalami kekeringan, iritasi, hingga masalah seperti bruntusan dan jerawat.
Dokter yang juga praktisi estetika, dr Silvia Kartika dari Seraphim Medical Center, mengatakan abu vulkanik memiliki kandungan mineral yang kompleks. Sebagian kandungannya bersifat asam sehingga dapat memicu iritasi ketika menempel pada kulit dalam waktu lama, terutama pada kulit sensitif.
"Abu vulkanik itu sifatnya cukup kompleks, mengandung berbagai mineral yang sebagian bersifat asam. Kalau menempel di kulit dalam waktu lama tanpa dibersihkan, potensi iritasinya cukup nyata, apalagi bagi yang punya kulit sensitif," jelas Silvia.
Selain kandungan mineral, tekstur abu vulkanik yang terdiri atas partikel halus juga dapat menempel pada permukaan kulit. Jika tidak dibersihkan dengan tepat, partikel tersebut berpotensi menyumbat pori-pori dan pada sebagian orang memicu jerawat atau bruntusan.