REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap dinamika keluarga menyimpan cerita unik dan sarat akan emosi, terutama ketika hubungan tersebut melibatkan ikatan batin yang erat antara seorang ibu dan anak perempuannya. Menyadari kedalaman emosional tersebut, Palari Films berupaya mengeksplorasi topik yang dekat dengan keseharian masyarakat ini melalui film terbarunya yang berjudul Desember Jani.
Film ini berpusat pada sebuah keluarga, menyoroti hubungan dinamis antara tiga generasi perempuan yang hidup di bawah satu atap yang sama dan harus menghadapi berbagai liku-liku kehidupan rumah tangga secara bersama-sama. Untuk memperkuat narasi yang sejak awal memang berfokus pada pengalaman serta sudut pandang perempuan, tim produksi melibatkan sejumlah figur perempuan berbakat dalam peran-peran yang krusial.
Salah satu sosok sentral di balik layar adalah sutradara Ariani Dermawan, yang sebelumnya lebih dikenal lewat karya-karya film pendeknya. Proyek Desember Jani sekaligus menandai pencapaian penting bagi Ariani sebagai film panjang pertamanya, serta menjadi penanda kembalinya ia ke kancah industri perfilman Indonesia setelah sempat vakum selama 10 tahun demi mendedikasikan waktu sepenuhnya untuk mengurus keluarga dan anak yang baru lahir.
Ariani membagikan cerita di balik keputusannya untuk kembali menyutradarai film layar lebar. “Saat itu saya baru menikah dan mempunyai anak yang justru petualangannya baru dimulai yaitu dalam mengurus anak dan suami saya. Jadi, saya enggak ngapa-ngapain selama 10 tahun, sampai sekarang anak saya sudah 10 tahun dan akhirnya ketika Meiske ngajak bikin film akhirnya saya rasa ini waktu yang tepat untuk kembali,” kata dia saat konferensi pers di Jakarta pada Senin (14/9/2026).
Meski sempat vakum cukup lama, ia justru merasa bahwa pengalaman hidup yang dijalaninya selama menjadi seorang ibu memberikan perspektif serta kedalaman baru dalam meracik sebuah cerita yang jujur. Ariani mengatakan bahwa pengalaman personalnya dalam merawat dan membesarkan anak membuatnya lebih mudah menerjemahkan nuansa kekeluargaan yang autentik ke dalam layar lebar.
View this post on Instagram
“Lebih mudah membuat film mengenai keluarga daripada mengurus keluarga. Tapi juga jadi lebih mudah karena saya juga menuangkan hal-hal yang saya alami di keluarga. Terutama hubungan saya dengan anak. Bagaimana saya mendisiplinkan anak tapi tidak mengekang. Itu hal yang menarik tapi jarang untuk diangkat ke layar," kata dia menjelaskan.