REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film Siti si Vampir tidak sekadar menawarkan cerita tentang makhluk pengisap darah. Di balik genre horor-komedi, film garapan sutradara Rahabi Mandra tersebut menyelipkan kritik terhadap persoalan sosial di masyarakat, termasuk kesenjangan kelas.
Tokoh utama film ini, Siti yang diperankan Satine Zaneta, digambarkan sebagai perempuan muda yang hidup sederhana bersama ayahnya di rumah susun Bojong Kenyot. Siti membantu ayahnya mengelola warung, termasuk membawa barang dagangan hingga melayani pelanggan.
Meski menjalani kehidupan sederhana, Siti memiliki ambisi besar untuk mengubah kondisi ekonominya. Ia bermimpi menjadi kaya dan seorang influencer.
“Siti itu seorang perempuan dengan obsesi untuk menjadi kaya-raya, influencer. Pokoknya, dia sangat terobsesi dengan mengubah hidupnya. Tapi ternyata, suatu hari hidupnya benar berubah. Berubah jadi apa? Jadi vampir,” ujar Satine saat diwawancarai di kantor Republika, Jakarta Selatan, Senin (7/9/2026).
Perubahan dalam hidup Siti terjadi setelah ia bertemu dengan Nakula, vampir yang diperankan Ciccio Manassero. Sejak saat itu, kehidupan Siti berbalik drastis.
Siti yang sebelumnya terbiasa dengan kehidupan sederhana tiba-tiba masuk ke lingkungan vampir yang digambarkan serba mewah dan eksklusif.
“Perbedaan kehidupan sehari-hari dari manusia dan vampir itu jelas. Kalau vampir itu serba elit, serba glamor, serba premium. Kalau Siti itu hardworking woman sebenarnya. Dia membantu ayahnya, ngangkat galon, ngangkat gas,” kata Satine.
Kontras kehidupan tersebut menjadi salah satu cara film menghadirkan satir mengenai kesenjangan kelas. Kehidupan manusia biasa yang dekat dengan persoalan ekonomi dipertemukan dengan kelompok vampir yang digambarkan sebagai kalangan elite dan memiliki pengaruh.
Satine mengaku justru membutuhkan usaha lebih untuk memainkan Siti sebelum berubah menjadi vampir. Ia harus mendalami karakter perempuan dari Bekasi, termasuk mempelajari kembali logat dan bahasa yang digunakan dalam keseharian.
“Justru menurutku, Siti sebagai vampir itu lebih mudah dimengerti dan dijalani daripada Sitinya sendiri. Karena menjadi Siti, aku harus menjadi pribadi dari Bekasi dan belajar kembali logat serta bahasa-bahasa yang sering digunakan oleh orang asal Bekasi,” ujarnya.
Sementara itu, Ciccio memainkan Nakula sebagai vampir yang telah lama berada di kalangan elite. Berbeda dengan Siti yang baru menjadi vampir, Nakula digambarkan memiliki posisi berpengaruh dan disegani.
“Kalau Nakula ini bisa dibilang, di kalangan vampir yang elit ini dia sangat berpengaruh. Semisal dalam konteks organisasi, mungkin dia merupakan salah satu ketuanya atau peran penting,” ujar Ciccio.
Dalam cerita, Nakula memiliki gagasan yang disebut sebagai pilot project. Ia ingin membangun sistem untuk mendapatkan suplai darah manusia dalam jumlah besar.
Selama ini, para vampir dalam cerita tersebut tidak lagi menyerang manusia karena telah mengandalkan darah sintetis. Namun, rencana Nakula untuk mengumpulkan darah manusia dalam jumlah besar berpotensi memunculkan kembali konflik antara manusia dan vampir.
“Di awal cerita ini, untuk menghindari konflik horizontal antara manusia dan juga vampir ... kita tidak mau menyerang atau menggigit manusia. Pilot project ini adalah suatu gagasan dari Nakula untuk bisa mendapatkan darah manusia sebanyak mungkin untuk menjadi suplai selama setahun,” jelas Ciccio.
Karakter Nakula juga memperlihatkan bagaimana kelompok vampir dalam film tersebut dibangun sebagai representasi kelas elite. Mereka memiliki aturan, gaya bicara, serta pembawaan yang berbeda dari masyarakat kebanyakan.
“Dari mannerisms-nya saja sudah beda. Beberapa kata itu tidak ada dan tidak boleh digunakan. Dapat dibilang mereka adalah elite class,” kata Ciccio.
Melalui pertemuan dua dunia tersebut, Siti si Vampir mencoba mengemas persoalan kelas dan kehidupan masyarakat urban melalui pendekatan yang lebih ringan. Horor dan komedi menjadi pintu masuk, sementara persoalan sosial menjadi lapisan cerita yang menyertainya.
Selain Satine Zaneta dan Ciccio Manassero, film ini turut dibintangi Shania Gracia sebagai Stella dan Ajil Ditto sebagai Dudi. Siti si Vampir diproduksi Viddsee bekerja sama dengan Bahagia Tanpa Drama, AZ Films, Spectrum Films, dan PK Films. Film tersebut dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.