Kamis 03 Sep 2026 14:28 WIB

Asap Kebakaran Hutan Berisiko Picu Parkinson dan Alzheimer

Menurut penelitian, partikel asap kebakaran hutan merusak DNA di dalam astrosit.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Pengendara melintas di jalan lingkar selatan Palembang-Banyuasin yang tertutup kabut asap di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (2/9/2026). Kabut asap yang menyelimuti daerah tersebut merupakan dampak dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Kabuoaten Ogan Ilir (OI) dan Kabupaten Banyuasin, saat ini Satgas Karhutla Sumatera Selatan terus mengintensifkan pemadaman kathutla melalui darat dan udara di sejumlah Kab/kota tersebut.
Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Pengendara melintas di jalan lingkar selatan Palembang-Banyuasin yang tertutup kabut asap di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (2/9/2026). Kabut asap yang menyelimuti daerah tersebut merupakan dampak dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Kabuoaten Ogan Ilir (OI) dan Kabupaten Banyuasin, saat ini Satgas Karhutla Sumatera Selatan terus mengintensifkan pemadaman kathutla melalui darat dan udara di sejumlah Kab/kota tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Paparan asap kebakaran hutan dapat memicu peradangan berbahaya di otak dan berpotensi berkontribusi terhadap perkembangan penyakit neurodegeneratif seperti Parkinson dan Alzheimer. Temuan tersebut terungkap dalam penelitian terbaru para ilmuwan di Barrow Neurological Institute, Phoenix, Amerika Serikat.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Neurotoxicology itu memberikan wawasan baru mengenai efek jangka panjang paparan asap terhadap kesehatan otak. Penelitian ini muncul di tengah terjadinya kebakaran hutan di berbagai negara termasuk Amerika dan Indonesia.

Baca Juga

Berdasarkan data National Interagency Fire Center, lebih dari 44 ribu kebakaran telah membakar lebih dari 4,8 juta acre di seluruh Amerika Serikat tahun ini. Angka tersebut telah melampaui rata-rata 10 tahun, baik dalam jumlah kebakaran maupun luas lahan yang terbakar. Adapun di Indonesia, luas area hutan dan lahan yang terbakar sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 202.010,96 hektare menurut data pemerintah.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menemukan partikel asap kebakaran hutan dapat mengaktifkan astrosit, yakni sel khusus di otak yang dalam kondisi normal berfungsi melindungi dan mendukung sel-sel otak. Namun, ketika terpapar partikel asap, astrosit dapat menjadi terlalu aktif.

Kondisi tersebut membuat sel-sel tersebut melepaskan molekul-molekul peradangan dalam jumlah yang dapat merusak neuron di sekitarnya. Padahal, neuron merupakan sel yang bertanggung jawab mengirimkan sinyal sehingga fungsi seperti gerakan, memori, dan kemampuan berpikir dapat berlangsung.

"Studi sebelumnya telah mengaitkan paparan asap kebakaran hutan dengan peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif dan penyakit neurodegeneratif. Kami ingin memahami apa yang menyebabkan peningkatan risiko tersebut," kata peneliti studi, Adam Schuller, dilansir laman Borrow Neurological Institute, Kamis (3/9/2926).

photo
Gejala Alzheimer. - (Republika)

 

Menurut Schuller, penelitian mereka mengungkap adanya jalur sistem kekebalan tubuh tertentu yang berperan dalam memicu respons peradangan tersebut. Para peneliti kemudian memusatkan perhatian pada STING, sebuah protein yang berfungsi sebagai salah satu sistem alarm alami tubuh.

photo
Pasien Parkinson (ilustrasi). - (Dok. Freepik)

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi