Rabu 02 Sep 2026 10:08 WIB

Pakar Ungkap Alasan Gen Z Pilih Work Life Balance Dibandingkan Naik Jabatan

Bagi sebagian gen Z, keberhasilan tak lagi semata-mata diukur dari kenaikan jabatan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Pekerja (ilustrasi). Tak sedikit generasi Z yang justru memilih menolak promosi demi mengutamakan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (work life balance).
Foto: Republika/Prayogi
Pekerja (ilustrasi). Tak sedikit generasi Z yang justru memilih menolak promosi demi mengutamakan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (work life balance).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Promosi jabatan selama ini kerap dipandang sebagai tanda keberhasilan seseorang dalam bekerja. Namun belakangan ini, tak sedikit generasi Z yang justru memilih menolak promosi demi mengutamakan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (work life balance).

Pakar ilmu keluarga dari IPB University, Rahmi Damayanti, mengatakan keputusan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa gen Z tidak ambisius atau tidak ingin berkembang. Menurut dia, ini terjadi karena adanya pergeseran orientasi mengenai makna keberhasilan dalam bekerja.

Baca Juga

"Bagi sebagian gen Z, keberhasilan tidak lagi semata-mata diukur dari kenaikan jabatan, besarnya tanggung jawab, atau posisi struktural, tetapi juga dari kemampuan memperoleh keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, kehidupan pribadi, kesehatan, dan pengembangan diri," kata Rahmi dalam keterangan tertulis, dikutip pada Selasa (1/9/2026).

photo
Ilustrasi antrean pencari kerja - (Republika/Daan Yahya)

 

Dari perspektif ilmu keluarga, Rahmi menjelaskan, pekerjaan merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan individu dan keluarga. Ketika tuntutan pekerjaan semakin besar, sementara waktu dan energi untuk keluarga maupun kehidupan personal semakin berkurang, seseorang dapat mempertimbangkan kembali pilihan kariernya.

"Jadi keputusan menolak promosi dapat menjadi bentuk prioritas terhadap kualitas hidup, bukan semata-mata menunjukkan keengganan untuk menerima tanggung jawab atau berkembang dalam karier. Apalagi gen Z memasuki dunia kerja dalam konteks perubahan besar: digitalisasi, tuntutan kerja yang semakin cepat, fleksibilitas kerja, serta meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya kesehatan dan kesejahteraan," kata dia.

Meski demikian, Rahmi mengingatkan agar fenomena tersebut tidak digeneralisasi. Banyak gen Z tetap memiliki aspirasi untuk memimpin, tetapi menginginkan model kepemimpinan yang lebih fleksibel, manusiawi, dan kolaboratif tanpa harus mengorbankan kehidupan pribadi atau keluarga.

Menurut Rahmu, tantangannya bukan semata-mata membuat gen Z mau menerima jabatan, tetapi bagaimana organisasi dapat mendesain pekerjaan dan posisi kepemimpinan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Salah satunya melalui penerapan pekerjaan ramah keluarga (family-friendly workplace) yaitu sistem, kebijakan, dan lingkungan kerja yang mendukung seseorang tetap produktif dan berkembang dalam karier, sekaligus tetap dapat menjalankan fungsi dan tanggung jawab keluarganya.

"Hal tersebut dapat diwujudkan melalui fleksibilitas kerja, pengelolaan beban kerja yang sehat, dukungan terhadap kebutuhan keluarga, cuti, dan waktu kerja yang lebih adaptif, serta budaya organisasi yang tidak menjadikan bekerja berlebihan sebagai ukuran loyalitas," kata Rahmi.

photo
Gen Z mengalami kecemasan di tempat kerja (ilustrasi). Bagi sebagian generasi Z, hal sepele seperti mengirim email pun bisa memicu rasa cemas berlebihan. - (Dok. Freepik)

 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi