Jumat 31 Jul 2026 22:26 WIB

Operasi Bypass Jantung tanpa Belah Tulang Dada Kian Mudah Diakses

Masyarakat tak perlu ke luar negeri menjalani operasi bypass tanpa sayatan ini.

Direktur Regional III Mitra Keluarga, dr Ronald Reagen MM MARS, mengatakan perkembangan layanan bedah jantung di Indonesia memberi lebih banyak pilihan bagi pasien untuk memperoleh terapi dengan standar pelayanan yang baik tanpa harus mencari pengobatan ke luar negeri.  Menurut dia, pasien kini dapat menjalani operasi bypass minimal invasif di dalam negeri dengan dukungan tim dokter bedah jantung yang berpengalaman serta fasilitas yang memadai.
Foto: Ist
Direktur Regional III Mitra Keluarga, dr Ronald Reagen MM MARS, mengatakan perkembangan layanan bedah jantung di Indonesia memberi lebih banyak pilihan bagi pasien untuk memperoleh terapi dengan standar pelayanan yang baik tanpa harus mencari pengobatan ke luar negeri. Menurut dia, pasien kini dapat menjalani operasi bypass minimal invasif di dalam negeri dengan dukungan tim dokter bedah jantung yang berpengalaman serta fasilitas yang memadai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perkembangan teknologi bedah jantung di Indonesia membuka harapan baru bagi pasien penyakit jantung koroner. Operasi bypass jantung yang selama ini identik dengan sayatan besar di dada dan kerap membuat pasien memilih berobat ke luar negeri, kini dapat dilakukan melalui teknik bedah minimal invasif dengan masa pemulihan yang lebih singkat.

Salah satu rumah sakit yang mengembangkan layanan tersebut adalah Mitra Keluarga Kelapa Gading. Dalam satu tahun terakhir, rumah sakit ini telah menangani lebih dari 100 tindakan Minimally Invasive Cardiac Surgery Coronary Artery Bypass Graft (MICS CABG) pada pasien penyakit jantung koroner.

Dokter Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular Konsultan Jantung Dewasa Mitra Keluarga Kelapa Gading, dr Wirya Ayu Graha Sp BTKV Subsp JD (K), menjelaskan teknik MICS CABG memungkinkan operasi bypass dilakukan tanpa membelah tulang dada. Tindakan dilakukan melalui sayatan kecil di sela tulang rusuk sehingga trauma jaringan dapat diminimalkan.

"Kalau minimal invasif, pasien bisa lima hari pulang dari rumah sakit, kemudian beraktivitas seperti biasa," kata dr Wirya.

Menurut dia, teknik tersebut membantu mempercepat pemulihan pasien dibandingkan operasi bypass konvensional yang membutuhkan pembelahan tulang dada dan masa penyembuhan lebih panjang.

Penyakit jantung masih menjadi tantangan besar di bidang kesehatan. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter mencapai 0,85 persen pada seluruh kelompok usia. Salah satu kondisi yang paling banyak memerlukan tindakan operasi ialah penyakit jantung koroner, yakni penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner akibat penumpukan plak.

Kondisi tersebut menyebabkan aliran darah dan oksigen menuju otot jantung berkurang sehingga memicu keluhan seperti nyeri dada, sesak napas, mudah lelah, gangguan irama jantung, hingga serangan jantung. Ketika penyumbatan tidak lagi dapat ditangani dengan obat-obatan ataupun pemasangan stent, operasi bypass menjadi pilihan untuk memulihkan aliran darah menuju jantung.

 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi