REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tidak semua aktivitas di depan memberikan dampak yang sama bagi otak. Cara seseorang menggunakan perangkat digital menjadi faktor penting yang menentukan apakah waktu layar (screen time) dapat membantu melatih kemampuan kognitif atau justru berpotensi mengganggu memori dan perhatian.
Psikolog klinis Neha Sinha mengatakan screen time terbagi menjadi dua jenis utama yakni penggunaan layar aktif dan pasif. Menurut dia, penggunaan layar pasif lebih berisiko mengganggu memori, perhatian, dan regulasi emosi.
Apa itu waktu penggunaan layar pasif?
Sinha menjelaskan, penggunaan layar pasif merupakan aktivitas digital yang hanya membutuhkan sedikit keterlibatan otak. Contoh penggunaan layar pasif yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari adalah menonton film sambil membuka media sosial, berbaring di tempat tidur sambil terus menggulir konten, hingga mengikuti video secara berulang karena sistem rekomendasi platform.
"Waktu layar pasif, yang ditandai dengan scrolling tanpa henti, konten autoplay, itu memberikan tuntutan kognitif yang minimal," kata Sinha seperti dilansir laman Hindustan Times, Rabu (8/7/2026).
Menurut Sinha, orang dewasa saat ini rata-rata menghabiskan 6 hingga 7 jam setiap hari di depan layar, dan sebagian besar waktu tersebut digunakan secara pasif. Akibatnya, tak sedikit orang dewasa yang mengeluh sulit fokus dan mudah lupa.
"Orang dewasa sekarang menghabiskan rata-rata 6-7 jam per hari di depan layar, sebagian besar secara pasif, yang telah dikaitkan dengan penurunan memori kerja dan peningkatan gangguan perhatian," kata Sinha.
Salah satu alasan konsumsi layar pasif sulit dihentikan adalah karena pola tersebut memberikan penghargaan cepat dengan usaha yang minim. Misalnya saat menonton reels, seseorang hanya perlu menunggu beberapa detik untuk mengetahui ending video.
Kepuasan instan tersebut membuat pengguna semakin tertarik pada konsumsi konten pasif, terutama konten pendek. Selain itu, fitur seperti menonton reel dengan kecepatan dua kali juga disebut dapat semakin memengaruhi rentang perhatian.
Jika dilakukan terus-menerus, pola konsumsi semacam ini dapat berhubungan dengan beberapa masalah seperti menurunnya toleransi terhadap frustrasi, sulit fokus saat mengerjakan tugas, hingga munculnya kelelahan kognitif. "Jadi jangan anggap kebiasaan scrolling media sosial itu sebagai hiburan. Karena itu malah bisa membuat otak merasa frustrasi," kata dia.