REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selebritas sekaligus podcaster Denny Sumargo mengajak masyarakat ikut menyatukan kasus tiga santri yang membakar hidup-hidup yang diduga oleh seniornya di lingkungan pesantren Rosyidatushaulatiyyah Al Ibrahimy Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Satu santri meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka berat hingga cacat permanen akibat kejadian tersebut.
Denny mengatakan kejadian ini terjadi pada Desember 2025, namun hingga saat ini belum ada jalan keluar dari kasus ini. "Bagaimana kalau itu anak kalian? Apa yang akan kalian lakukan? Kasus ini menurut keluarga korban itu, sudah dilaporkan sekitar 7-8 bulan yang lalu, tapi tidak ada titik terangnya. Jadi tolong bantu kawal," kata Denny dalam video yang diunggah di akun Instagramnya, dikutip pada Kamis (9/7/2026).
Untuk membantu korban mendapatkan keadilan, Denny mulanya berinisiatif untuk mengundang perwakilan keluarga ke Jakarta untuk berbicara di podcast miliknya "Curhat Bang". Namun setelah memesan tiket pesawat dan penginapannya, Denny mendapat kabar bahwa keluarga korban diduga mendapat intimidasi dan tidak diizinkan berangkat oleh pihak tertentu.
"Hari ini, gue mendapat kabar bahwa mereka tidak boleh berangkat. Kenapa mereka sampai tidak jadi berangkat? Apa yang sebenarnya terjadi? Masyarakat itu bukan ingin menyalahkan. Justru karena mereka melihat korban yang sudah mengalami kehilangan begitu banyak, tapi masih kesulitan untuk menyampaikan suaranya. Kalau memang tidak ada yang salah dalam prosesnya, oke? Maka keterbukaan itu adalah jawaban terbaik," kata Denny.
Dalam video terbaru yang diunggah di Instagramnya, Denny membagikan update mengenai kasus ini. la mengatakan, menurut pengacara korban, pihak keluarga belum diizinkan berangkat ke Jakarta karena korban sedang menjalani penanganan dan pengobatan di rumah sakit setempat. Alasan inilah yang membuat korban akhirnya dicegat agar oleh pihak tertentu, sehingga tidak bisa meninggalkan Lombok.
“Menurut keterangan yang gue dapat dari pengacara korban, mereka belum berangkat, karena korban sedang menjalani penanganan dan pengobatan di rumah sakit setempat. Itu yang menjadi alasan mengapa mereka pada saat mau berangkat ke Jakarta di-setop dan kemudian mereka dibawa oleh pihak terkait,” kata Denny.