REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Niat hati ingin terlihat kasual dan dekat dengan generasi muda, Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, justru terjebak dalam dialog santai yang berakhir pada kecaman publik. Ia akhirnya meminta maaf setelah candaannya dalam sebuah obrilian dinilai tidak pantas bagi seorang kepala pemerintahan.
Semua kehebohan ini bermula saat Albanese hadir sebagai bintang tamu dalam podcast Bush Deep yang dipandu oleh komedian Nikki Osborne. Di akhir acara, Osborne menantang sang Perdana Menteri untuk bermain "Shag, Marry, Date", sebuah permainan populer di mana seseorang harus memilih siapa dari tiga opsi yang akan ia tiduri, nikahi, atau kencani. Tiga nama diva ikonik Australia yang disodorkan kepadanya adalah Kylie Minogue, Nicole Kidman, dan Rhonda Burchmore.
Albanese sebenarnya sempat mencoba menghindar dengan membawa-bawa status barunya sebagai seorang suami. “Saya baru saja menikah,” ujarnya sambil tertawa dikutip dari laman ABC pada Selasa (7/7/2026).
Namun, sang pemandu acara tidak menyerah dan terus mendesak dengan skenario pengandaian jika pernikahannya berakhir. Terdesak oleh pertanyaan tersebut, Albanese akhirnya menjawab, "Oh, tentu saja Kylie."
Sambil bercanda, Osborne kembali melontarkan tawaran, "Anda akan menikahi Kylie, tidur bersamanya, dan mengencaninya?" yang langsung direspons mantap oleh Albanese, "Semua hal di atas."
Obrolan santai itu tidak berhenti di sana. Dalam episode yang sama, Albanese juga sempat ceplas-ceplos membahas kehidupannya pribadinya dengan sang istri, Jodie Haydon. Ia bahkan melontarkan kelakar bahwa kemenangan tim rugbi favoritnya, South Sydney, merupakan afrodisiak atau obat perangsang gairah yang sangat ampuh.
Begitu episode tersebut mengudara, rekaman pembicaraan ini langsung viral dan memicu kritik. Menyadari situasi yang tidak lagi kondusif, Albanese merilis pernyataan resmi untuk meredakan kegaduhan. Ia memilih untuk tidak berbelit-belit dan langsung mengakui kesalahannya.
“Saya meminta maaf tanpa syarat atas komentar-komentar tersebut,” kata Albanese melalui kantor resminya.
Meski kata maaf sudah terucap, para politisi perempuan di parlemen Australia telanjur berang. Mereka menilai seorang Perdana Menteri tidak seharusnya ikut serta dalam permainan yang mencukupi perempuan seperti itu.
Zali Steggall, seorang anggota parlemen independen, menyebut tindakan Albanese sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang pemimpin. “Dia harus belajar untuk menolak, memberikan contoh yang baik, dan berani menyatakan secara tegas bahwa hal tersebut adalah tindakan seksis,” ujar Steggall.
Kritik yang lebih menohok datang dari kubu oposisi. Sarah Henderson menilai Albanese telah meruntuhkan wibawa jabatannya dan masuk ke dalam ruang dialog yang kotor. “Alih-alih menolak secara sopan untuk terlibat, Tuan Albanese justru masuk ke dalam selokan dengan komentar-komentarnya yang kotor, yang menunjukkan penilaian yang sangat buruk di saat kepercayaan terhadap Partai Buruh sedang merosot,” ujar Henderson.