REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Spam judi online di media sosial semakin masif, terutama semenjak bergulirnya Piala Dunia 2026. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat, pada Januari hingga Juni 2026 serangan bot promosi judi online di media sosial meningkat 128 persen.
Pakar IT dan digital forensik, Ruby Alamsyah, mengatakan maraknya spam tersebut tidak dilakukan secara manual, melainkan menggunakan sistem bot komersial yang memiliki kemampuan jauh lebih kompleks dibandingkan bot sederhana.
Menurutnya, bot tersebut dilengkapi berbagai fitur, salah satunya kemampuan memantau unggahan yang sedang viral atau menjadi tren secara real time. Dengan cara itu, promosi judi online dapat menjangkau lebih banyak pengguna dalam waktu singkat.
"Bot ini punya tools monitoring yang bisa mendeteksi postingan yang sedang trending atau viral secara real time. Setelah itu, bot akan mengarahkan jaringan akun palsu untuk membanjiri kolom komentar pada unggahan tersebut," kata Ruby saat dihubungi Republika, Kamis (2/7/2026).
la menjelaskan, di balik sistem tersebut terdapat jaringan akun palsu yang dikelola secara terpusat. Saat ini, perangkat untuk mengoperasikan banyak akun media sosial sekaligus juga telah diperjualbelikan secara komersial.
Operator hanya perlu memberikan perintah, kemudian seluruh akun dalam jaringan tersebut akan secara otomatis memposting komentar sesuai instruksi. "Pola kerja simpel. Pertama, sistem memantau postingan yang lagi viral. Setelah target ditemukan, jaringan akun palsu akan dikirim untuk memenuhi kolom komentar dengan promosi judi online," kata dia.
Ruby mengatakan, Piala Dunia memang kerap menjadi momentum besar untuk mempromosikan judi online. Karena pelaku berharap semakin banyak orang melihat promosi tersebut dan akhirnya tertarik mencoba judi online piala dunia.
"Event seperti Piala Dunia memang menjadi momentum yang mereka incar. Dengan bantuan bot komersial, penyebaran komentar spam bisa dilakukan secara jauh lebih masit," kata dia.
Bagaimana menyiasatinya? Dari sudut pandang digital forensik, Ruby menilai setiap sistem pasti memiliki pola tertentu yang dapat dipelajari. Menurutnya, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memperoleh dan menganalisis bot komersial yang digunakan pelaku.
Melalui proses forensik digital, akan bisa dipelajari cara kerja, metode, hingga teknik otomatisasi yang digunakan. Hal itu kemudian menjadi dasar penyusunan mekanisme deteksi dan pemblokiran.
"Namanya juga tools, pasti punya metode, teknik, dan pola kerja. Kalau kita bisa mendapatkan bot tersebut lalu mempelajarinya secara forensik, kita bisa menemukan pattern yang kemudian digunakan untuk membangun sistem pencegahan," ujar Ruby.