Rabu 01 Jul 2026 18:12 WIB

Psikolog Ungkap Batasan Keterlibatan Orang Tua Saat Anak Cari Kerja

Menurut psikolog, orang tua sebaiknya tidak ikut masuk ke ruang wawancara.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Pencari kerja memegang brosur saat acara Job Fair 2025 di Halaman Gedung Kemnaker, Jakarta, Kamis (22/5/2025). Menurut psikolog, orang tua yang menemani anak saat hendak wawancara kerja masih dapat dimaklumi. Asalkan sebatas mengantar, memberikan dukungan emosional, atau membantu anak merasa lebih tenang sebelum menjalani proses seleksi.
Foto: Republika/Prayogi
Pencari kerja memegang brosur saat acara Job Fair 2025 di Halaman Gedung Kemnaker, Jakarta, Kamis (22/5/2025). Menurut psikolog, orang tua yang menemani anak saat hendak wawancara kerja masih dapat dimaklumi. Asalkan sebatas mengantar, memberikan dukungan emosional, atau membantu anak merasa lebih tenang sebelum menjalani proses seleksi.

REPUBLIKA.COl.ID, JAKARTA -- Saat anak-anak mencari pekerjaan, tak sedikit orang tua yang ikut terlibat dalam setiap proses. Berdasarkan survei dari Career Co-Piloting, 15 persen generasi Z di Amerika Serikat ditemani orang tua saat wawancara kerja tatap muka.

Fenomena serupa juga ditemui di Indonesia. Psikolog anak dan keluarga, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, mengatakan orang tua yang menemani anak saat hendak wawancara kerja masih dapat dimaklumi. Asalkan sebatas mengantar, memberikan dukungan emosional, atau membantu anak merasa lebih tenang sebelum menjalani proses seleksi.

Baca Juga

Namun menurut Vera, orang tua sebaiknya tidak ikut masuk ke ruang wawancara, berbicara dengan pewawancara, maupun mengambil alih komunikasi dengan perusahaan. “Jika orang tua terlalu terlibat, hal ini dapat memberi kesan bahwa anak belum siap mandiri, belum percaya diri atau belum mampu menghadapi tuntutan dunia profesional,” kata Vera saat dihubungi Republika, Rabu (1/7/2026).

la pun menjelaskan batasan sehat mengenai keterlibatan orang tua dalam proses anak mencari kerja. Menurut Vera, batasan tersebut dibangun dengan mengubah peran orang tua dari pengambil ali menjadi pendamping di belakang layar.

Artinya, orang tua dapat membantu anak mempersiapkan diri seperti berdiskusi mengenai pilihan karier, berlatih wawancara, dan memberikan masukan terhadap CV. Namun, proses utama tetap harus dijalankan oleh anak sendiri.

Vera juga menyarankan orang tua untuk bertanya lebih lanjut daripada langsung mengatur. Hal ini penting untuk membangun kemandirian dan rasa percaya diri buah hati.

"Misalnya orang tua bertanya, 'Kamu butuh dibantu di bagian apa?' atau 'Mau latihan wawancara dulu?'. Dengan cara ini, anak belajar mengenali kebutuhannya sendiri dan tetap merasa percaya,” ujar Vera.

Selain itu, batasan yang sehat juga berarti orang tua tidak melakukan komunikasi dengan perusahaan, tidak menegosiasikan gaji atas nama anak, serta tidak menentukan pilihan pekerjaan maupun lokasi kerja anak. Vera juga membagikan sejumlah kiat bagi orang tua yang anaknya sedang mencari pekerjaan. Pertama, orang tua sebaiknya membantu anak mempersiapkan diri, bukan menyelamatkan mereka dari setiap kesulitan.

"Orang tua bisa membantu dengan wawancara role play, diskusi tentang kemungkinan pertanyaan atau memberi masukan tentang cara berpakaian dan berpura-pura profesional," kata Vera.

Kedua, orang tua perlu memberi ruang bagi anak karena tidak menerima kepuasan. Menurut Vera, ditolaknya lamaran kerja memang tidak menyenangkan, tetapi merupakan bagian penting dari proses pembelajaran hidup. Dari pengalaman tersebut, anak belajar mengecewakan, memutar diri, dan mencoba kembali.

“Nah orang tua yang dijelaskan mendampingi anak dalam mengecewakannya dan menjaga agar tidak berlarut serta anak bisa bangkit lagi,” kata Vera.

Kiat ketiga, orang tua diharapkan tetap hadir sebagai tempat pulang bagi anak. Anak yang sedang mencari pekerjaan tetap membutuhkan dukungan emosional, didengarkan tanpa dihakimi, serta diyakinkan bahwa kegagalan dalam satu proses seleksi bukan berarti dirinya gagal sebagai pribadi.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi