Jumat 26 Jun 2026 10:41 WIB

McD Uji Coba Teknologi AI untuk Pemesanan di Drive-Thru

Tren ini bisa mengubah wajah industri makanan ke depan.

McDonald
Foto: EPA-EFE/ANDY RAIN
McDonald

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Layanan makanan cepat saji McDonald's tengah menguji teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk melayani pemesanan di jalur drive-thru di lima gerainya di Amerika Serikat. Teknologi ini berpotensi menggantikan proses pemesanan yang selama puluhan tahun dilakukan oleh karyawan.

Sistem baru tersebut diberi nama ArchIQ, sebuah platform pemesanan berbasis AI yang didukung Google. McDonald's memperkenalkannya dalam konvensi global perusahaan pada 2026 yang berlangsung pekan lalu, dikutip dari ABC News, Jumat (26/6/2026).

Baca Juga

Seorang pemilik waralaba McDonald's menyebut teknologi tersebut dijuluki "Archy". Dalam video yang diunggah di platform X, sistem AI itu menyapa pelanggan, menerima pesanan, memproses perubahan atau permintaan tambahan, lalu menampilkan rincian pesanan beserta total pembayaran di layar sebelum mempersilakan pelanggan melaju ke loket pengambilan makanan.

ArchIQ mampu melayani pemesanan dalam bahasa Inggris maupun Spanyol. Bahkan, sistem tersebut dapat mengenali pelanggan yang meminta pesanan favorit mereka dengan kalimat seperti, "Can I get my usual?" atau "Saya pesan seperti biasa."

Menurut pemilik waralaba tersebut, sekitar 90 persen pesanan sejauh ini berhasil diselesaikan tanpa memerlukan campur tangan karyawan.

Dalam memo internal perusahaan, Chief Executive Officer (CEO) McDonald's Chris Kempczinski mengatakan perusahaan tengah menyiapkan strategi baru seiring semakin banyaknya perjalanan pelanggan yang diotomatisasi.

"Ketika interaksi dengan kru semakin sedikit, standar keramahan agar pelanggan tetap merasa diperhatikan, disambut, dan dihargai justru harus semakin tinggi," tulis Kempczinski.

Ia juga menekankan bahwa di tengah inflasi yang masih tinggi, pelanggan mengharapkan nilai yang konsisten dari McDonald's. Karena itu, perusahaan harus terus menjaga kepercayaan konsumen pada setiap kunjungan.

Pengamat industri restoran sekaligus Editor in Chief Restaurant Business, Jonathan Maze, menilai langkah McDonald's dapat menjadi titik balik bagi industri makanan cepat saji. "Pada dasarnya Anda sedang mengotomatisasi pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia. Tujuan yang biasanya disampaikan perusahaan adalah membebaskan waktu karyawan agar dapat mengerjakan tugas lain," ujar Maze.

McDonald's sebenarnya bukan kali pertama bereksperimen dengan sistem pemesanan otomatis. Pada 2024, perusahaan sempat menguji teknologi serupa, tetapi menghentikannya setelah sejumlah video yang memperlihatkan kesalahan pemrosesan pesanan menjadi viral di media sosial.

Meski demikian, industri makanan cepat saji tetap gencar berinvestasi dalam teknologi otomatisasi. Taco Bell dan Wendy's juga telah mengumumkan penggunaan sistem pemesanan drive-thru berbasis AI di sejumlah gerainya.

Maze memperkirakan tren tersebut akan mengubah wajah industri dalam beberapa tahun ke depan. "Anda bisa membayangkan lima hingga sepuluh tahun mendatang, tidak ada lagi pesanan di McDonald's yang diterima langsung oleh manusia," katanya.

Meski begitu, respons publik terhadap uji coba teknologi baru ini masih didominasi sentimen negatif. Banyak pengguna media sosial menyatakan lebih memilih berinteraksi dengan karyawan saat memesan makanan. Namun, sebagian lainnya menilai sistem AI akan membuat proses pemesanan menjadi lebih cepat dan praktis.

Hingga kini McDonald's belum mengumumkan rencana penerapan ArchIQ secara luas. Perusahaan menegaskan teknologi tersebut dikembangkan untuk meningkatkan kecepatan pelayanan, akurasi pesanan, dan pengalaman pelanggan maupun karyawan, bukan untuk menggantikan tenaga kerja.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi