REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kota Seoul, dengan segala kemegahannya, selama ini menjadi gerbang utama bagi masyarakat Indonesia untuk mencicipi atmosfer Korea Selatan. Namun, tren perjalanan belakangan ini merekam anomali yang menarik.
Gelombang K-Culture tidak lagi sekadar membuat orang Indonesia datang untuk membeli album K-pop atau kosmetik di mal metropolitan, melainkan memicu rasa penasaran yang lebih dalam yaitu bagaimana rasanya menjalani kehidupan sehari-hari di sudut-sudut Korea yang selama ini hanya tampak di latar belakang sinematografi layar kaca? Pergeseran selera ini terdokumentasi dalam laporan tebaru Airbnb bertajuk "Korea Calling: How K-Culture Is Driving a New Generation of Travelers into Korea".
Laporan tersebut menyebut sebanyak 97 persen wisatawan Indonesia terang-terangan mengaku bahwa ketertarikan mereka pada Negeri Ginseng berakar dari budayanya. Namun, alih-alih menumpuk di ibu kota, arah kompas liburan mereka kini mulai melebar ke wilayah-wilayah sekunder.
Wisatawan Indonesia kini berburu keaslian, sebuah pengalaman organik yang sering kali justru bersembunyi di balik ketenangan kota kecil dan wilayah pesisir. Country Head Airbnb untuk Asia Tenggara & India, Amanpreet Bajaj, mengatakan budaya Korea terus mendorong minat wisatawan Indonesia untuk berkunjung ke Korea Selatan. Namun yang semakin terlihat saat ini, wisatawan saat ini tidak lagi hanya tertarik pada Kota Seoul atau wisata yang berfokus pada hiburan semata.
"Pergeseran ini terlihat dari semakin banyak wisatawan yang ingin menjelajahi Korea Selatan lebih dalam melalui kuliner lokal, warisan budaya, serta daerah wisata yang belum banyak dikunjungi wisatawan, seiring dengan mereka juga mencari pengalaman wisata yang lebih autentik dan mendalam di berbagai wilayah Korea Selatan," kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Senin (22/6/2026).
Keinginan untuk "kabur" dari jalur wisata mainstream di Seoul ternyata bukan sekadar romantisasi belaka. Laporan tersebut mencatat bahwa 98 persen orang Indonesia menyatakan siap memesan tiket ke kota-kota satelit dan wilayah pelosok Korea Selatan, asalkan mereka bisa menemukan tempat menginap yang memadai dan ramah di kantong di luar kota besar.
Radar eksplorasi mereka kini tertuju pada beberapa titik yang memiliki karakter visual dan kultural yang kuat. Busan menempati urutan teratas dengan 81 persen minat karena menawarkan kontras apik antara tebing-tebing curam, pasar ikan tradisional yang riuh, dan garis pantai yang dramatis. Di posisi berikutnya, Pulau Jeju mengantongi 58 persen suara sebagai pelarian alam terbaik bagi pencinta ketenangan dan lanskap vulkanik.
Sementara itu, wilayah penyangga seperti Incheon dan Gyeonggi memikat 47 persen wisatawan dengan warisan sejarah kolonial dan situs budaya kuno, disusul oleh Daegu sebesar 39 persen sebagai kota lembah bersahaja yang dikelilingi pegunungan indah. Dorongan terbesar yang membuat kota-kota ini mendadak ramai dikunjungi adalah faktor lanskap alam yang unik, yang disetujui oleh 66 persen responden. Unsur lokalitas lain seperti kuliner khas daerah sebesar 56 persen dan tradisi setempat sebanyak 41persen juga turut mengambil peran.
Menariknya, memori visual dari drama Korea atau film layar lebar memegang pengaruh sebesar 40 persen dalam menentukan destinasi. Hal ini menunjukkan, estetika visual yang disajikan lewat layar kaca mampu menggugah rasa penasaran psikologis yang kuat bagi penontonnya untuk datang dan menyaksikan langsung realitas di dunia nyata.