Selasa 09 Jun 2026 14:25 WIB

Stigma terhadap Disabilitas Tak Terlihat Masih Tinggi, Ruang Publik Didorong Lebih Inklusif

Tantangan tumbuh kembang anak saat ini kerap disalah pahami karena kurangnya sensori

Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan tumbuh kembang terhadap pasien anak yang mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di UPTD Puskesmas Beji, Depok, Jawa Barat, Senin (10/2/2025). Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) resmi meluncurkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi masyarakat di 10.200 puskesmas yang ada di seluruh Indonesia, mulai hari ini. Program cek kesehatan gratis ini sebagai bentuk apresiasi bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berulang tahun. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan, melakukan deteksi dini berbagai penyakit, serta menekan angka kecacatan dan kematian akibat kondisi medis yang tidak terdeteksi sejak awal.
Foto: Republika/Prayogi
Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan tumbuh kembang terhadap pasien anak yang mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di UPTD Puskesmas Beji, Depok, Jawa Barat, Senin (10/2/2025). Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) resmi meluncurkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi masyarakat di 10.200 puskesmas yang ada di seluruh Indonesia, mulai hari ini. Program cek kesehatan gratis ini sebagai bentuk apresiasi bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berulang tahun. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan, melakukan deteksi dini berbagai penyakit, serta menekan angka kecacatan dan kematian akibat kondisi medis yang tidak terdeteksi sejak awal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Stigma terhadap penyandang disabilitas tak terlihat (hidden disabilities) masih menjadi tantangan di Indonesia. Kondisi seperti autisme, ADHD, gangguan sensori, hingga gangguan kecemasan yang tidak tampak secara fisik sering kali membuat penyandangnya disalahpahami saat berada di ruang publik. Akibatnya, mereka kerap mendapat penilaian negatif ketika mengalami kesulitan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Kesadaran masyarakat yang masih rendah terhadap keberadaan disabilitas tak terlihat dinilai menjadi salah satu hambatan dalam mewujudkan ruang publik yang inklusif. Untuk mendorong pemahaman yang lebih baik, Sunny Kids meluncurkan BIRU (Bantuan Inklusif di Ruang Umum), sebuah tanda pengenal yang dirancang untuk membantu masyarakat mengenali dan memahami kebutuhan penyandang hidden disabilities saat beraktivitas di ruang publik.

Direktur Sunny Kids, Christina Onasis, mengatakan masih banyak penyandang hidden disabilities yang mengalami kesulitan bukan hanya karena kondisi yang mereka miliki, tetapi juga akibat kurangnya pemahaman dari lingkungan sekitar.

"Kami meluncurkan inisiatif BIRU dengan tujuan agar masyarakat di sekitar mereka dapat lebih memahami kondisi yang dimiliki. BIRU bukan hanya sekadar karena kartunya berwarna biru, tetapi merupakan singkatan dari Bantuan Inklusif di Ruang Umum," ujar Christina.

Menurut dia, berbeda dengan disabilitas fisik yang relatif mudah dikenali, penyandang disabilitas tak terlihat sering menghadapi tantangan karena kondisi mereka tidak tampak secara langsung. Anak dengan autisme atau gangguan sensori misalnya, kerap dianggap nakal ketika mengalami sensory overload di tempat umum. Sementara individu dengan ADHD sering dinilai tidak disiplin, dan penyandang gangguan kecemasan dianggap berlebihan.

Christina menegaskan tujuan utama BIRU bukan untuk memperoleh perlakuan istimewa, melainkan membangun kesadaran bahwa setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda. Melalui inisiatif tersebut, Sunny Kids juga mengajak operator transportasi, maskapai penerbangan, pusat perbelanjaan, fasilitas publik, institusi pendidikan, hingga sektor swasta untuk bersama-sama menciptakan ruang publik yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas tak terlihat.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi