REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyakit autoimun memengaruhi sekitar 8 persen populasi dunia dan berdampak serius pada kualitas hidup penderitanya. Dalam kondisi ini, sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan tubuh sendiri, sehingga menimbulkan berbagai gangguan jangka panjang.
Konsultan Reumatologi dr Ankush PM mengungkapkan beberapa penyakit autoimun yang paling umum antara lain Hashimoto's Thyroiditis, Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus, serta Rheumatoid Arthritis (RA). Hashimoto's Thyroiditis merupakan kondisi autoimun kronis yang secara bertahap merusak fungsi metabolik kelenjar tiroid dan menjadi salah satu penyebab utama hipotiroidisme pada perempuan, dengan rasio kejadian perempuan dibandingkan laki-laki sekitar 10 berbanding 1.
Sementara itu, lupus dapat menyerang berbagai organ seperti kulit, ginjal, dan sistem saraf. Adapun rheumatoid arthritis terjadi ketika sistem imun menyerang lapisan sinovial pada sendi, yang dapat menyebabkan nyeri kronis hingga deformitas.
"Autoimun lebih banyak dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Banyak perempuan tidak menyadari tingkat keparahan penyakit autoimun sejak gejala awal muncul, sehingga diagnosis sering terlambat," kata dr Ankush, dilansir laman Hindustan Times, Selasa (19/5/2026).
Dokter Ankush menjelaskan tingginya angka kasus autoimun pada perempuan dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, terutama hormon estrogen. Estrogen diketahui meningkatkan aktivitas sistem imun sehingga perempuan cenderung lebih kuat dalam melawan infeksi dibandingkan laki-laki.
Namun, kadar estrogen yang tinggi juga dapat membuat sistem imun menjadi terlalu aktif. Ketika kondisi ini terjadi secara berlebihan, tubuh berisiko menyerang jaringan sehatnya sendiri.