Jumat 15 May 2026 10:05 WIB

Peran Tenaga Biomedik Kian Penting di Era Kedokteran Presisi

Tenaga medis yang makin kompeten bisa dorong fasilitas kesehatan yang terbaik

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVI Konsorsium Ilmu Biomedik Indonesia (KIBI) di Universitas YARSI, Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Foto: YARSI
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVI Konsorsium Ilmu Biomedik Indonesia (KIBI) di Universitas YARSI, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Transformasi sistem kesehatan nasional mendorong kebutuhan terhadap tenaga biomedik yang semakin besar. Di tengah berkembangnya pendekatan kedokteran presisi dan ancaman penyakit baru, keberadaan ahli biomedik dinilai menjadi salah satu penopang penting dalam proses diagnosis, riset, hingga pengembangan terapi yang lebih tepat sasaran.

Pengakuan terhadap profesi tenaga biomedik juga semakin menguat setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Meski demikian, tantangan penguatan kompetensi dan standarisasi profesi masih menjadi perhatian di kalangan akademisi dan praktisi kesehatan.

Hal tersebut mengemuka dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVI Konsorsium Ilmu Biomedik Indonesia (KIBI) di Universitas YARSI, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Ketua Umum KIBI, Asmarinah, mengatakan keahlian biomedik memiliki peran besar dalam mendukung akurasi diagnosis dan pengembangan penanganan penyakit berbasis karakter genetik.

Menurut dia, kemampuan analisis biomolekuler dan genetik menjadi semakin penting, terutama dalam menghadapi potensi munculnya virus baru seperti Hantavirus. Analisis tersebut dibutuhkan untuk mengetahui karakter virus yang beredar di Indonesia agar penanganan medis dapat lebih sesuai dengan kondisi masyarakat.

“Kita harus menganalisis materi genetiknya. Bisa jadi Hantavirus yang beredar di luar negeri berbeda dengan yang ada di Indonesia. Jika ingin membuat vaksin yang tepat sasaran, analisis tenaga biomedis menjadi sangat penting,” ujar Asmarinah.

Ia menambahkan, penguatan profesi tenaga biomedik tidak cukup hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga perlu ditopang sertifikasi dan standar kompetensi yang seragam. Hal itu dinilai penting agar lulusan ilmu biomedik memiliki pengakuan profesional yang jelas ketika bekerja di laboratorium maupun fasilitas layanan kesehatan.

Dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap program studi ilmu biomedik juga disebut terus meningkat. Sejumlah perguruan tinggi dan sekolah tinggi ilmu kesehatan mulai membuka program studi terkait untuk menjawab kebutuhan sumber daya manusia di sektor kesehatan modern.

Perkembangan tersebut sejalan dengan arah pengembangan kedokteran presisi di Indonesia. Pendekatan ini mengandalkan data genetik, lingkungan, dan gaya hidup pasien untuk menentukan terapi yang lebih personal dan efektif, terutama dalam penanganan penyakit kronis.

Asmarinah menilai, penguatan kapasitas tenaga biomedik akan menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian sistem kesehatan nasional, termasuk dalam pengembangan riset dan inovasi kesehatan berbasis kebutuhan dalam negeri.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement