Rabu 13 May 2026 18:00 WIB

Apoteker Indonesia Terpilih Jadi Pimpinan Organisasi Farmasi Asia

Sejumlah tantangan di sektor farmasi masih cukup besar.

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Satria K Yudha
Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) Lilik Yusuf Indrajaya.
Foto: Istimewa
Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) Lilik Yusuf Indrajaya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI), Lilik Yusuf Indrajaya, terpilih sebagai Chairperson Medicine Information and Digital Health Federation of Asian Pharmaceutical Associations (FAPA) periode 2026–2030. Ia memperoleh dukungan dari 24 negara anggota dalam proses pemilihan.

Lilik menyebut isu keselamatan pasien akan menjadi fokus utama dalam masa kepemimpinannya di organisasi farmasi tingkat Asia tersebut. Menurut dia, peran apoteker berkaitan langsung dengan keamanan penggunaan obat di masyarakat.

Baca Juga

“Apoteker memainkan peran penting memastikan obat digunakan dengan aman, tepat, dan efektif,” kata Lilik melalui keterangannya, Rabu (13/5/2026).

Ia menilai sejumlah tantangan di sektor farmasi masih cukup besar, mulai dari kesalahan penggunaan obat, peredaran obat palsu, hingga kesenjangan informasi kesehatan di berbagai negara Asia.

FAPA ke depan disebut akan memperkuat program keselamatan pasien melalui peningkatan literasi kesehatan, penguatan praktik pelayanan farmasi, serta pembentukan budaya keselamatan sejak pendidikan profesi apoteker.

Lilik sebelumnya juga pernah menjabat Chairperson Medicine Information and Health Information FAPA pada periode 2022–2026. Saat itu, ia terpilih melalui pemungutan suara dengan raihan 67 persen mengalahkan kandidat dari Filipina, Leonila Ocampo.

Dalam posisi barunya, Lilik akan memimpin pengembangan informasi obat dan kesehatan digital di kawasan Asia, termasuk pemanfaatan data dalam layanan farmasi, farmakovigilans, dan komunikasi kesehatan.

Fokus kerja tersebut juga mencakup penguatan sistem informasi berbasis bukti, etika penggunaan data kesehatan, serta peningkatan literasi pasien untuk mendukung keamanan terapi obat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement