Senin 11 May 2026 14:32 WIB

Mengapa Perempuan Susah Naik Jabatan? Pakar Ungkap 3 Hambatan Utamanya

Karier dan keluarga tak seharusnya dipandang sebagai 2 hal yang saling mengorbankan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Ilustrasi antrean pencari kerja. Perempuan dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan untuk bisa mencapai posisi senior atau jabatan eksekutif di dunia kerja.
Foto: Republika/Daan Yahya
Ilustrasi antrean pencari kerja. Perempuan dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan untuk bisa mencapai posisi senior atau jabatan eksekutif di dunia kerja.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perempuan dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan untuk bisa mencapai posisi senior atau jabatan eksekutif di dunia kerja. Menurut profesional perekrutan dan founder Headhunter Indonesia, Haryo Suryonsumarto, setidaknya ada tiga hambatan utama yang masih sering ditemui dan memengaruhi peluang promosi bagi perempuan.

Tantangan pertama adalah beban ganda yang dialami profesional perempuan. Menurut Haryo, perempuan sering kali dianggap tidak stabil karena masih dilekatkan dengan urusan-urusan domestik seperti mengasuh anak dan mengelola rumah tangga.

Baca Juga

Beban ganda ini pun tanpa disadari berpengaruh pada keputusan perempuan dalam mengejar karier. Menurut Haryo, tidak sedikit kandidat perempuan yang menolak promosi jabatan karena khawatir tidak mampu membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.

"Perempuan yang sudah menikah, banyak yang menolak promosi di perusahaan karena takut nggak bisa ngatur waktu. Karena dia ingin menjadi ibu yang baik, istri yang baik, makanya di pekerjaan tidak mau mengemban jabatan strategis. Ini tantangan utama," kata Haryo saat dihubungi Republika, pada April lalu.

photo
Pekerja wanita (ilustrasi). - (Dok. Freepik)

 

Haryo menilai solusi dari persoalan ini adalah keberanian perempuan untuk mengejar ambisi tanpa rasa bersalah. la menekankan bahwa karier dan keluarga tidak seharusnya dipandang sebagai dua hal yang saling mengorbankan.

"Jadi jangan sampai ngerasa bahwa kalau saya memprioritaskan keluarga, maka karier saya harus dikorbankan. Atau kalau saya ngejar ambisi karier, maka keluarga saya harus dikorbankan. Ini bagaimana time management dan juga prioritas yang harus diatur sedemikian rupa, sehingga tidak ada yang dikorbankan," kata Haryo.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement