Kamis 30 Apr 2026 10:34 WIB

Menteri PPPA Minta Maaf, Akui Usulan Pemindahan Gerbong Wanita Kurang Tepat

Menteri PPPA menjelaskan, dia tidak bermaksud mengabaikan keselamatan penumpang pria.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi. Dia meminta maaf kepada masyarakat seusai mengusulkan gerbong KRL khusus wanita dipindah ke tengah, sementara laki-laki ditempatkan di gerbong paling depan dan belakang.
Foto: Rizky Suryarandika
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi. Dia meminta maaf kepada masyarakat seusai mengusulkan gerbong KRL khusus wanita dipindah ke tengah, sementara laki-laki ditempatkan di gerbong paling depan dan belakang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi meminta maaf kepada masyarakat seusai mengusulkan gerbong KRL khusus wanita dipindah ke tengah, sementara laki-laki ditempatkan di gerbong paling depan dan belakang. la mengakui usulan tersebut kurang tepat disampaikan dalam situasi duka.

"Terkait pernyataan saya pascakecelakaan kereta di Bekasi Timur, saya menyadari bahwa pernyataan tersebut kurang tepat," kata Arifah dalam pernyataan yang diunggah di Instagram resmi pada Rabu (29/4/2026).

Baca Juga

Arifah mengatakan dia tidak bermaksud mengabaikan keselamatan penumpang laki-laki. Karenanya, ia memohon maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti atau tidak nyaman atas usulannya.

photo
Petugas gabungan berusaha mengevakuasi korban kecelakaan KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi yang masih terjebak dalam gerbong di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Kecelakaan KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek menyebabkan 7 orang penumpang meninggal dunia, dan 81 penumpang luka-luka dan dirawat. - (Edwin Putranto/Republika)

 

Menurutnya, dalam situasi penuh duka seperti ini, fokus utama seharusnya adalah keselamatan, penanganan korban, serta empati terhadap keluarga yang terdampak. la pun mengakui bahwa keselamatan seluruh masyarakat merupakan prioritas utama tanpa memandang gender.

"Saya memahami bahwa dalam situasi duka seperti ini, yang menjadi fokus utama adalah keselamatan dan penanganan korban. Kita semua sepakat bahwa keselamatan seluruh masyarakat adalah prioritas nomor satu, baik perempuan maupun laki-laki," ujar Arifah.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement