REPUBLIKA.CO.ID JAKARTA -- Tren gentle parenting belakangan ini kian populer di kalangan orang tua muda terutama generasi Z. Namun di balik itu, pakar mengingatkan orang tua agar tak salah kaprah dalam memaknai pendekatan ini sebagai pola asuh yang serbalembut tanpa batas.
Pakar psikologi dari Univesitas Airlangga, Dr Nur Ainy Fardana, menjelaskan bahwa gentle parenting merupakan pendekatan yang menekankan hubungan hangat dan penuh empati antara orang tua dan anak, dan ketegasan batasan. Tujuannya bukan hanya membuat anak patuh, tetapi membantu mereka berkembang secara emosional, sosial, dan moral dengan kesadaran diri.
"Pendekatan ini berfokus pada lima prinsip utama, yakni empati, komunikasi yang penuh hormat, disiplin tanpa kekerasan, kesadaran emosi, serta konsistensi dengan batasan yang jelas," kata Dr Nur dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (29/4/2026).
la menekankan bahwa empati dan komunikasi bukan sekadar pelengkap dalam gentle parenting. Tanpa keduanya, pendekatan ini berisiko berubah menjadi permisif atau kembali pada pola otoriter.
Dalam perspektif psikologi perkembangan, perilaku anak berkaitan erat dengan tahap emosi dan kognitifnya. Empati membantu orang tua memahami apa yang terjadi di balik perilaku anak, sementara komunikasi menjadi sarana untuk membimbing dan mengarahkan.