Rabu 29 Apr 2026 17:10 WIB

Usulan Gerbong Wanita ke Area Tengah KRL Tuai Kritik dan Perdebatan

Pemindahan gerbong wanita ke area tengah dinilai bukan solusi keselamatan penumpang.

Rep: Gumanti Awaliyah,M. Nursyamsyi/ Red: Qommarria Rostanti
Seorang petugas keamanan wanita berjaga di rangkaian gerbong kereta api listrik (KRL) khusus wanita di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Senin (1/10). (Aditya Pradana Putra/Republika)
Seorang petugas keamanan wanita berjaga di rangkaian gerbong kereta api listrik (KRL) khusus wanita di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Senin (1/10). (Aditya Pradana Putra/Republika)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan (PPPA) Anak Arifah Fauzi agar gerbong khusus wanita dipindah ke area tengah menimbulkan kontroversi di masyarakat. Usulan itu dikritik dan dianggap usulan tersebut tidak etis.

Fajar Afryandi (34 tahun), seorang desainer grafis di perusahaan swasta di Jakarta Selatan, menilai usulan Menteri PPPA soal pemindahan gerbong khusus wanita sangat tidak berdasar. Pria asal Tangerang yang biasa menggunakan KRL untuk bekerja itu menegaskan penumpang pria juga berhak mendapat kenyamanan dan keamanan.

Baca Juga

"Jadi poin utamanya bukan cuma mindahin posisi gerbong, tapi gimana menciptakan sistem transportasi KRL yang aman dan nyaman untuk semua penumpang, baik pria maupun wanita," kata Fajar saat dihubungi Republika, Rabu (29/4/2026).

Menurut Fajar, usulan pemindahan gerbong tersebut berpotensi menjadi bentuk diskriminasi gender. Karena dia menilai, usulan itu terkesan melanggengkan norma toksik bahwa laki-laki harus lebih kuat, lebih tahan sakit, tidak boleh lemah, yang padahal dalam hal keselamatan semua harus diperlakukan setara.

photo
Petugas gabungan berusaha mengevakuasi korban kecelakaan KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi yang masih terjebak dalam gerbong di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Kecelakaan KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek menyebabkan 7 orang penumpang meninggal dunia, dan 81 penumpang luka-luka dan dirawat. - (Edwin Putranto/Republika)

 

"Usulan mindahin gerbong wanita ke area tengah itu apakah artinya beliau menormalisasi bahwa laki-laki harus lebih kuat, harus lebih bisa nahan sakit dan lainnya? Jika begitu maksudnya, ini diskriminasi berbasis gender," kata dia.

Fajar menyebut fokus utama pemerintah seharusnya mekakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari mengapa tidak adanya palang pintu resmi sehingga taksi bisa menerobos perlintasan kereta hingga masalah sinyal. Menurut dia evaluasi tersebut lebih penting daripada berkutat pada gagasan memindahkan gerbong.

"Yang harus diperbaiki adalah sistem, cari akar masalahnya di mana. Saya kira yang lebih krusial adalah memastikan tabrakan itu tidak pernah terjadi lagi. Itu yang harus dipikirin. Coba kita cek kejadian kemarin, kenapa taksi itu bisa berani lewat dan mogok di rel kereta? Bukannya malah ngelempar gagasan ngawur," kata Fajar. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement